Kementerian Pertanian (Kementan) secara resmi memperkenalkan Warehouse Hilirisasi Perkebunan dengan inovasi teknologi bioreaktor yang mampu mengubah minyak sawit mentah atau CPO menjadi bahan bakar nabati 100 persen (B100). Terobosan penting ini diperkenalkan dalam ajang Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII yang diselenggarakan di Gorontalo.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Teknologi bioreaktor tersebut dihadirkan oleh Kementan melalui Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), berkolaborasi dengan Direktorat Jenderal Perkebunan serta Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian. Kehadiran teknologi ini menjadi sorotan utama karena menawarkan alternatif baru di sektor energi mandiri.
Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), Fadjry Djufry menjelaskan bahwa teknologi mutakhir ini menawarkan solusi energi alternatif berbasis CPO untuk menghasilkan biosolar B100 yang ramah lingkungan dan efisien. "Inovasi ini merupakan langkah strategis dalam mendorong transisi energi nasional berbasis sumber daya domestik, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak," ujarnya.
Fadjry juga menegaskan bahwa pengembangan teknologi hilirisasi perkebunan merupakan upaya nyata untuk memperkuat kemandirian sektor pertanian Indonesia, terutama dalam menghadapi berbagai tantangan energi dan pangan di masa depan. Menurutnya, modernisasi pertanian kini tidak hanya berfokus pada peningkatan volume produksi semata.
Lebih lanjut, modernisasi di bidang pertanian juga menitikberatkan pada hilirisasi dan pemanfaatan teknologi canggih agar komoditas perkebunan dalam negeri memiliki nilai tambah yang jauh lebih tinggi. "Inovasi seperti bioreaktor CPO menjadi B100 adalah contoh nyata bagaimana riset dan teknologi dapat menjawab kebutuhan energi nasional," tegas Fadjry Djufry.
Ia menambahkan bahwa kehadiran Warehouse Hilirisasi Perkebunan di ajang PENAS XVII Gorontalo menjadi sarana yang sangat penting untuk mempercepat proses transfer teknologi kepada para petani, penyuluh pertanian, serta pelaku usaha di berbagai daerah di Indonesia.