Kisah haru datang dari diaspora Suriah di Kanada. Keluarga Yasseen Tasabehji, yang telah tinggal di Mississauga sejak 2010, memutuskan pulang ke tanah air usai rezim Bashar al-Assad tumbang pada Desember 2024. Kini mereka membangun usaha dan harapan baru di Damaskus.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Yasseen Tasabehji (33) bersama empat saudara dan kedua orang tuanya awalnya tidak pernah membayangkan akan kembali. Mereka telah membangun kehidupan yang cukup mapan di Kanada. Selama perang, hanya ibunya yang sempat pulang menjenguk keluarga, sementara yang lain menganggap bab Suriah telah tertutup.
Namun semuanya berubah ketika operasi pemberontak menggulingkan rezim Assad dalam hitungan hari. Tasabehji mengaku seperti ada kotak Pandora yang terbuka. Kami sedang mencari tujuan hidup dan merasa ini mungkin momen yang tepat untuk berkontribusi, ujar Tasabehji kepada Al Jazeera.
Setelah kunjungan singkat pada April 2025, keluarga ini mantap pindah permanen pada Juli lalu. Mereka merealisasikan ide membuka gym panjat tebing di kawasan Mezzeh, Damaskus. Kami melihat negara ini membutuhkan segalanya, dan setiap tambahan kecil akan memberi perbedaan besar, tuturnya.
Klub panjat tebing itu kini menjadi ruang komunitas bagi pemuda Suriah. Tasabehji dan keluarganya menjalankan program untuk membangun rasa percaya diri dan mempererat persaudaraan. Kami ingin membuat Suriah lebih menarik bagi anak muda agar mereka melihat masa depan di sini, tambahnya.
Kisah Tasabehji menjadi bagian dari gelombang kepulangan 1,5 juta warga Suriah pasca kejatuhan Assad. Mereka datang dari Turki, Lebanon, Eropa, dan Teluk, membawa optimisme meski dihadapkan pada krisis ekonomi dan biaya energi yang melonjak. Harapan untuk membangun kembali kehidupan pun berkobar.
Namun tantangan besar masih menghadang. Bank Dunia memperkirakan biaya rekonstruksi Suriah mencapai 216 miliar dolar AS. Pemerintah baru di bawah Presiden Ahmed al-Sharaa gencar melobi pencabutan sanksi ekonomi untuk memulihkan kepercayaan internasional.
Tidak semua kepulangan bersifat permanen. Tariq Azeez dari International Rescue Committee mengungkapkan sekitar 400.000 pengungsi Suriah pulang dari Lebanon akibat perang Israel. Beberapa di antaranya akan kembali lagi jika situasi di Lebanon membaik, jelas Azeez.
Azeez juga mengingatkan potensi gesekan sosial. Jutaan warga Suriah memiliki pengalaman hidup yang sangat berbeda selama perang, baik di dalam maupun luar negeri. Perbedaan norma dan pandangan politik bisa memicu konflik, ujarnya. Dibutuhkan proses kepulangan bertahap agar harmoni sosial tetap terjaga.
Di tengah semua kesulitan, keluarga Tasabehji tetap optimis. Mereka sadar masalah sektarian dan sosial di Suriah tidak bisa selesai hanya dengan satu usaha. Namun mereka terus berusaha memperkenalkan satu sama lain agar bisa hidup berdampingan. Kami ingin membantu membangun masa depan negeri ini, pungkas Tasabehji.