Kabayan News Kabayan News
/home / olahraga / Hujan Ribuan Migran di Ceuta,...
OLAHRAGA

Hujan Ribuan Migran di Ceuta, Berenang Massal dari Maroko

By Redaksi Kabayan News • 2 min read • 30 Juli 2026
Ribuan migran berenang dari Maroko ke Ceuta, Spanyol, memenuhi perairan dan pusat penampungan yang kolaps

Ribuan migran berenang dari Maroko ke Ceuta, Spanyol, memenuhi perairan dan pusat penampungan yang kolaps

Lebih dari 1.500 migran, termasuk anak-anak dan orang dewasa, dilaporkan berenang dari Maroko ke wilayah kecil Spanyol, Ceuta, dalam beberapa hari terakhir. Otoritas setempat menyebutkan jumlah perenang ini tidak biasa dan telah membuat pusat-pusat penampungan di kawasan tersebut kolaps dan penuh sesak.

Pemimpin pemerintah Ceuta, Juan Jesús Vivas, mengungkapkan kondisi darurat ini kepada para jurnalis. "Dalam beberapa hari terakhir, lebih dari 1.500 migran, termasuk dewasa dan anak di bawah umur, telah mencapai Ceuta melalui laut. Pusat-pusat penerimaan kami runtuh dan jenuh," ujarnya, seraya menambahkan bahwa dalam setahun terakhir, 60 jenazah terlihat di laut akibat upaya serupa.

Situasi ini diakui sebagai "luar biasa dan eksepsional" oleh Menteri Dalam Negeri Spanyol, Fernando Grande-Marlaska, dalam wawancaranya dengan saluran televisi laSexta. Ia menegaskan bahwa pihaknya menangani keadaan ini dengan semua sumber daya yang telah ditempatkan secara permanen di Ceuta, termasuk Garda Sipil, Layanan Penyelamatan Maritim, dan Palang Merah yang terus menjemput para perenang.

Para migran yang mencoba menyeberang didominasi oleh warga Maroko, ditambah sejumlah kecil warga Aljazair yang sebelumnya tinggal di Maroko sambil menunggu kesempatan menuju Eropa. Namun, belum jelas apa yang memicu lonjakan drastis arus perenang ini, mengingat cuaca baik memang biasanya meningkatkan penyeberangan laut di musim panas, tetapi angkanya kini dinilai tidak lazim.

Vivas menyayangkan putusan Mahkamah Agung Spanyol awal bulan ini yang menetapkan bahwa migran yang tiba melalui laut tidak dapat segera dipulangkan tanpa proses hukum, berbeda dengan migran darat yang memanjat pagar perbatasan. Namun, aktivis Omar Naji dari Asosiasi Hak Asasi Manusia Maroko meragukan keputusan hukum tersebut sebagai pemicu utama karena kebanyakan warga Maroko tidak mengetahui kebijakan detail semacam itu.

Naji justru mengingatkan pada krisis perbatasan Mei 2021, ketika lebih dari 8.000 migran membanjiri Ceuta dalam dua hari. Saat itu, Maroko dituduh melonggarkan kontrol perbatasan setelah Spanyol mengizinkan pemimpin Front Polisario, Brahim Ghali, berobat di rumah sakit Spanyol, yang memicu krisis diplomatik antara Rabat dan Madrid.

Meski situasi memburuk, Menteri Grande-Marlaska memuji kerja sama otoritas Maroko yang dinilai "dekat dan berdasarkan loyalitas". "Mereka juga membatasi keberangkatan ilegal," katanya kepada laSexta, berusaha menekankan koordinasi kedua negara dalam menghadapi gelombang migrasi ini.

Dengan pusat-pusat penampungan yang kewalahan, ratusan migran kini terpaksa tidur di luar fasilitas yang sudah melebihi kapasitas. Pemerintah Spanyol dijadwalkan merilis laporan migrasi dua bulanan berikutnya pada 3 Agustus, yang diharapkan memberikan gambaran lebih jelas tentang lonjakan ini.

Topics
krisis migran ceuta maroko spanyol imigrasi ilegal perbatasan juan jesús vivas pengungsi eropa penyeberangan laut
Tim Jurnalis & Analis Berita

Redaksi Kabayan News adalah tim jurnalis profesional, analis, dan kreator konten yang berdedikasi menyajikan berita nasional dan internasional terlengkap. Dari berita politik breaking news hingga analisis ekonomi mendalam, kami hadir untuk masyarakat Indonesia yang cerdas dan haus akan informasi berkualitas.