Sebagaimana diwartakan oleh media massa, krisis pasokan pangan dan air bersih kini mulai mengancam ratusan jiwa pengungsi yang bertahan di Posko Binaan Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur. Bantuan logistik yang tak kunjung merata membuat warga terdampak gempa Nusa Tenggara Timur (NTT) semakin kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari di tengah situasi darurat.
Kondisi memilukan tersebut dirasakan langsung oleh Zaitun (36), salah satu warga yang mengungsi di posko tersebut. Ia menuturkan bahwa persediaan beras dan air minum di tempat pengungsian sudah mulai menipis, sementara warga kebingungan harus meminta pertolongan ke mana lagi karena akses yang terbatas.
Mengutip laporan media, Zaitun mengungkapkan "Kami di sini sudah tidak berdaya". Demi bisa bertahan hidup di tengah kepungan bencana, para korban gempa terpaksa harus mengais sisa-sisa beras di antara reruntuhan bangunan rumah warga yang hancur.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSituasi di lokasi pengungsian semakin mendesak lantaran jumlah warga yang datang terus bertambah setiap harinya, termasuk anak-anak dan balita. Warga sempat diminta berjalan sejauh lima kilometer menuju Posko Ronting untuk mengambil bantuan, namun stok yang menipis justru memicu keributan dan perebutan antarwarga.
Berdasarkan laporan BNPB, jumlah korban jiwa akibat bencana gempa bumi ini bertambah menjadi 71 orang dengan total pengungsi mencapai 59.647 jiwa. Pemerintah pusat melalui instruksi Presiden memastikan percepatan distribusi logistik ratusan ton terus dikirimkan melalui jalur udara, laut, maupun darat guna menjangkau seluruh titik posko pengungsian di NTT.