Sebagaimana diwartakan, ribuan aktivitas gempa susulan yang terus mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur tidak hanya menghadirkan ancaman secara fisik saja, melainkan turut meninggalkan dampak psikologis yang mendalam bagi masyarakat setempat. Rentetan guncangan yang terjadi secara berulang-ulang membuat warga terdampak harus hidup dalam bayang-bayang kecemasan, mudah terkejut, sulit tidur, hingga mengalami kesulitan berkonsentrasi dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Berdasarkan laporan media, psikolog klinis Diah Nurayu mengungkapkan bahwa seseorang yang pernah merasakan gempa bumi besar akan jauh lebih sensitif terhadap berbagai tanda bahaya di lingkungan sekitarnya. Kondisi tersebut dipicu oleh situasi lingkungan yang dirasakan masih belum sepenuhnya aman, sehingga membuat korban bencana secara otomatis terus-menerus memantau keadaan sekitar guna mengantisipasi kemungkinan terburuk yang bisa terjadi sewaktu-waktu.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa situasi tersebut semakin berat dirasakan oleh masyarakat mengingat frekuensi gempa susulan yang tinggi serta ketidakpastian kapan guncangan berikutnya akan datang. Mengutip penjelasan dari sang psikolog lulusan Universitas Indonesia tersebut, faktor ketidakpastian dan pengalaman buruk saat gempa besar terjadi menjadi pemicu utama mengapa para korban sangat kesulitan untuk sekadar mendapatkan rasa aman dan ketenangan batin.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBerdasarkan data monitoring dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika hingga 19 Agustus 2026, tercatat sudah ada sebanyak 3.002 aktivitas gempa bumi susulan di wilayah NTT dengan magnitudo bervariasi antara 1,1 hingga 6,2. Pihak BMKG menyampaikan bahwa rangkaian aktivitas seismik tersebut merupakan bagian dari proses pelepasan energi lanjutan usai gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 sebelumnya.
Menanggapi kondisi mental para warga, Diah mengingatkan agar masyarakat maupun pihak luar tidak langsung melabeli rasa takut, cemas, atau gangguan tidur yang dialami para korban sebagai Post-Traumatic Stress Disorder atau PTSD. Menurutnya, berbagai gejolak psikologis tersebut pada fase awal bencana merupakan suatu bentuk kewajaran yang dikenal sebagai respons reaksi stres akut setelah mengalami musibah besar.
Meski demikian, risiko munculnya gangguan psikologis yang lebih berat tetap ada dan bisa meningkat apabila korban tidak segera mendapatkan penanganan medis yang tepat serta dukungan sosial yang memadai. Terlebih lagi jika korban juga harus menghadapi kenyataan pahit berupa kehilangan anggota keluarga tercinta, mengalami luka-luka, atau merasa tidak berdaya di tengah situasi darurat yang melanda daerah mereka.
Diah menambahkan, kondisi kewaspadaan yang dipelihara secara terus-menerus dalam jangka waktu lama ternyata juga dapat menguras energi fisik maupun psikologis manusia secara signifikan. Ketika tubuh dipaksa untuk selalu siaga menghadapi ancaman bencana susulan, seseorang akan kesulitan untuk beristirahat dengan tenang, yang pada akhirnya memicu kelelahan kronis, gangguan tidur yang parah, hingga perubahan emosi menjadi lebih mudah tersinggung.