Tim Dowling, kolumnis The Guardian, kembali berbagi kisah kocak seputar kehidupan keluarganya. Kali ini ia bercerita tentang petualangannya di klub baca atau book club yang diikuti istrinya, di mana ia kerap dianggap sebagai anggota kelas dua oleh sang istri. "Kamu tidak boleh memilih buku karena kamu bahkan bukan anggota klub baca yang sebenarnya," ujar istrinya sebelum setiap pertemuan, seperti dikutip dari tulisannya di The Guardian.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Meski istrinya bersikeras ada aturan tidak tertulis yang melarangnya memilih buku, Dowling justru menganggap dirinya sebagai "jantung yang berdetak" dari klub baca tersebut. Namun ia mengakui bahwa suaranya memang sering kurang didengar karena ia satu-satunya pria di antara para anggota, dan satu-satunya kesempatan ia memilih buku berakhir dengan bencana karena semua orang, termasuk dirinya sendiri, membenci buku tersebut.
Setelah lebih dari setahun berlalu, Dowling merasa sudah waktunya mencoba lagi. Kali ini ia membawa rekomendasi dari putra sulungnya, sebuah novel klasik berusia seabad berjudul Death Comes for the Archbishop karya Willa Cather. Menurutnya, buku ini adalah "banger" atau karya yang luar biasa. Saat ia menyampaikan pilihannya dalam pertemuan klub baca yang digelar di dapur rumahnya, beberapa anggota semula ragu, tapi akhirnya setuju untuk memberinya kesempatan.
Namun tiga minggu kemudian, Dowling terbangun pagi-pagi dan mendapati istrinya menatapnya tajam di atas Kindle-nya. "Saya benci buku ini," kata istrinya dengan kesal. Ia mengeluhkan para pendeta yang terus-menerus berkeliling dengan keledai di sepanjang cerita. Beberapa hari kemudian, Dowling juga mendengar istrinya mengeluh kepada putra mereka tentang buku yang disebutnya "Death Comes for the Fucking Archbishop".
Saat pertemuan klub baca berikutnya di rumah Emma, perdebatan langsung memanas. Istri Dowling menyatakan kebenciannya pada buku tersebut, sementara Suzy justru sangat menyukainya dan dengan penuh kasih menyebutkan semua nama keledai yang muncul di cerita. Perpecahan pendapat terjadi di antara anggota, dan suasana menjadi semakin hidup saat mereka mendiskusikan berbagai adegan penting.
Di tengah perdebatan sengit, Fran menoleh ke Dowling dan memintanya untuk membela pilihan bukunya. Namun dengan jujur Dowling mengaku tidak ingat detail cerita karena ia membacanya setahun setengah yang lalu dan tidak mengulangnya lagi. "Kenapa harus saya baca ulang? Intinya menjadi pemilih buku adalah agar Anda mendapat keringanan," ujarnya dengan polos. Istrinya pun langsung berseru, "Nah, ini sebabnya dia tidak pernah diizinkan memilih buku!"