Komet 240P NEAT membelah diri menjadi dua bagian saat melintasi tata surya, memicu perhatian para astronom untuk menyelidiki penyebab fenomena langka tersebut melalui riset mendalam. Berdasarkan pengamatan astronom David Jewitt bersama tim penelitinya dari University of California, Los Angeles, peristiwa fragmentasi ini memberikan petunjuk penting mengenai mekanisme kehancuran benda es angkasa luar.
Mengutip laporan dari pengamatan teleskop Nordic Optical Telescope antara Oktober 2025 hingga April 2026, para ahli melacak perubahan fotomorfologis serta tingkat pelepasan debu dari komponen pecahan komet tersebut. Komponen utama yang dinamai 240P-A memiliki radius sekitar 400 hingga 600 meter dengan laju pelepasan debu empat kali lebih tinggi daripada pecahan kedua, yakni 240P-B.
Pecahan kedua yaitu 240P-B memiliki ukuran radius diperkirakan mencapai 300 meter dengan tingkat kecerahan lebih rendah. Dari analisis pergerakan jarak pisah kedua fragmen, para peneliti menyimpulkan pemisahan komet ini telah terjadi setidaknya tiga tahun sebelum pengamatan intensif dilakukan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMenurut pengamatan dari analisis tim peneliti, beberapa potensi penyebab kehancuran seperti gaya pasang surut gravitasi planet, hantaman asteroid, tekanan bawah permukaan, dan tekanan termal berhasil disingkirkan karena tidak sesuai dengan karakteristik lintasan orbit komet. Hal tersebut menyisakan ketidakstabilan rotasi sebagai faktor utama pemicu terbelahnya komet berukuran subkilometer ini.
Proses pelepasan gas dari permukaan komet menghasilkan torsi yang memicu ketidakstabilan rotasi, terutama mengingat kecepatan pemisahan kedua fragmen tersebut sebanding dengan kecepatan lepas komet primer. Penelitian lebih lanjut mengenai periode rotasi komet 240P tetap dibutuhkan guna mengonfirmasi hipotesis tersebut secara utuh.