Pengunduran diri Nanik S. Deyang dari posisinya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) memicu sorotan publik. Langkah tersebut menjadi perbincangan hangat setelah diketahui bahwa ia tetap mempertahankan jabatannya sebagai Komisaris PT Pertamina Tbk.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan penilaian Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, alasan faktor kesehatan yang disampaikan Nanik dinilai tidak masuk akal. Menurut Bhima, keputusan untuk tetap menjabat di BUMN mengindikasikan adanya ketidakkonsistenan sikap.
Bhima menduga salah satu alasan utama Nanik enggan melepas kursi Komisaris Pertamina adalah pertimbangan finansial. "Alasan kesehatan juga tidak logis karena Nanik melewati medical check up sebelum jadi Kepala BGN. Gajinya lebih menarik dari Kepala BGN," ujar Bhima saat dihubungi pada Rabu (22/7/2026).
Menurut pengamatan tim redaksi, mundurnya kepemimpinan BGN terjadi di tengah tingginya dinamika politik dan dorongan publik terkait evaluasi tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG). Bhima menilai Nanik menghadapi tekanan berat dari dua sisi, yakni keinginan Presiden Prabowo Subianto agar program prioritas tersebut terus berjalan dan desakan masyarakat yang meminta penghentian sementara pascamerekahnya isu korupsi.
Berdasarkan analisis CELIOS, Nanik juga berisiko terjebak dalam arena konflik kepentingan antarlembaga yang mengawasi serta mengelola program strategis tersebut. Posisi tokoh sipil di tengah pusaran gesekan antarinstansi dinilai sangat rentan, sementara pembenahan tata kelola BGN diprediksi memakan waktu panjang akibat kompleksitas permasalahan yang ada.