Obat daraxonrasib yang baru disetujui untuk mengobati kanker pankreas menunjukkan hasil awal yang menjanjikan dalam uji klinis terhadap pasien kanker paru-paru. Penelitian yang dipublikasikan dalam The New England Journal of Medicine tersebut melibatkan 136 pasien kanker paru non-kecil atau non-small cell lung cancer yang telah menyebar ke bagian tubuh lain.
Para pasien dalam uji klinis tersebut sebelumnya telah menerima berbagai perawatan lain seperti kemoterapi dan memiliki mutasi DNA pada protein RAS. Mutasi ini berfungsi sebagai sakelar molekuler yang memicu pertumbuhan sel kanker, sementara daraxonrasib bekerja dengan memblokir sakelar tersebut untuk menghambat pertumbuhan sel.
Dr Kathryn Arbour selaku onkolog medis di Memorial Sloan Kettering Cancer Center sekaligus pemimpin uji klinis menyatakan bahwa mutasi KRAS ditemukan pada sekitar 30 persen pasien kanker paru. Jumlah tersebut mencakup angka yang sangat besar mengingat tingginya angka diagnosis kasus kanker paru setiap tahun di Amerika Serikat.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeHasil studi menunjukkan bahwa 31 hingga 37 persen pasien merespons obat tersebut tergantung pada dosis yang diberikan. Angka respons tersebut dinilai cukup mengesankan karena kemoterapi konvensional biasanya hanya mampu menyusutkan tumor pada sekitar 10 persen kasus.
Uji Coba Fase Lanjutan Menuju Persetujuan FDA
Keunggulan utama daraxonrasib dibandingkan obat serupa sebelumnya adalah kemampuannya sebagai inhibitor multi-RAS yang dapat mengatasi berbagai jenis mutasi KRAS. Hal ini memperluas jangkauan pasien yang bisa menerima terapi target dibandingkan obat terdahulu yang hanya efektif pada mutasi G12C tertentu.
Tujuan utama dari uji klinis tahap awal ini adalah untuk memastikan keamanan penggunaan obat pada populasi pasien dengan kondisi lanjut. Hampir seluruh pasien melaporkan efek samping ringan, sementara separuhnya mengalami efek samping tingkat moderat hingga parah yang umum terjadi seperti ruam dan gangguan pencernaan.
Efek samping yang dinilai murni berkaitan dengan obat meliputi mual, muntah, diare, serta iritasi mulut atau mukositis yang serupa dengan laporan pada pasien kanker pankreas. Evaluasi lanjutan masih terus diperlukan mengingat pengujian ini baru melibatkan sejumlah kecil pasien dengan penyakit yang sangat lanjut.
Saat ini, sebuah uji klinis fase III sedang berjalan pada pasien kanker paru yang sebelumnya telah menjalani perawatan lini pertama berupa kemoterapi dan imunoterapi. Jika uji coba tersebut berhasil, obat ini diharapkan bisa segera mendapatkan persetujuan resmi dari FDA untuk pasien kanker paru.
Potensi penggunaan obat multi-RAS ini juga membuka peluang besar bagi pengobatan jenis kanker lain yang didorong oleh mutasi protein RAS. Keberhasilan ini diharapkan dapat memberikan tambahan opsi pengobatan bagi pasien yang saat ini memiliki pilihan terapi sangat terbatas.
Perkembangan riset medis ini menandai langkah maju dalam dunia onkologi modern untuk menghadirkan terapi target yang lebih efektif bagi penanganan berbagai jenis keganasan.