Proses perbaikan tebing ambles di perbatasan Kota dan Kabupaten Bandung, tepatnya di Jalan Ir. H. Djuanda (Dago Atas) menuju kawasan Taman Hutan Raya (Tahura), terus dikebut. Hingga Minggu pagi, sejumlah petugas masih terlihat sibuk melakukan pengerjaan di lokasi longsoran.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan pantauan di lapangan sekitar pukul 10.00 WIB, aktivitas bongkar muat material bangunan dari truk masih terus berlangsung di area proyek. Akibat adanya pengerjaan ini, akses jalan yang semula terdiri dari dua lajur kini hanya bisa digunakan satu lajur secara bergantian. Petugas pun terpaksa menerapkan sistem buka-tutup jalan untuk meminimalkan kepadatan kendaraan.
Arus lalu lintas dari arah pusat kota menuju wilayah kabupaten terpantau lebih dominan dibandingkan arah sebaliknya. Hal ini dipicu oleh tingginya volume wisatawan yang hendak menghabiskan akhir pekan di kawasan Tahura dan sekitarnya. Sejumlah warga setempat bahkan turut turun ke jalan untuk membantu mengatur lalu lintas agar kemacetan tidak mengular terlalu panjang.
Salah seorang pengendara asal Purwakarta, Solihin, mengaku merasakan dampak kepadatan ini sejak memasuki pusat kota Bandung. Ia harus terjebak di beberapa titik kemacetan sebelum akhirnya sampai di kawasan perbaikan jalan Dago Atas.
"Banyak hambatan lalu lintasnya, dari mulai Exit Pasteur, terus Simpang Dago sampai sini, karena ada perbaikan jalan," ujar Solihin saat ditemui di lokasi.
Meski terhambat macet, Solihin bersama keluarganya tetap melanjutkan perjalanan menuju destinasi wisata alam tersebut. Cuaca yang mendukung menjadi salah satu alasan mereka tetap memilih berakhir pekan di area atas Bandung.
"Mau ke taman hutan raya, terus ngopi di atas, suasananya enak, apalagi ini enggak hujan," tambah pria berusia 36 tahun tersebut.
Sebelumnya, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan telah mengusulkan opsi pembatasan kendaraan berat yang melintasi jalur Dago Atas. Langkah tegas ini diambil karena beban kendaraan besar ditengarai menjadi salah satu pemicu utama amblesnya tebing di titik tersebut.
"Kami sedang kaji bersama Dishub, Polda, dan Polres apakah perlu ada pembatasan kendaraan berat, karena ini titik transisi antara kabupaten dan kota," kata Farhan memberikan penjelasan resmi.
Farhan menjelaskan bahwa berdasarkan hasil audit terakhir, konstruksi bangunan di sekitar lokasi, termasuk area The MAJ Dago, dinyatakan masih sangat kokoh. Fokus utama perbaikan permanen ini diarahkan pada penguatan bagian bawah tebing yang mengarah ke jalur Dago Giri.
"Konstruksi di seberangnya (The MAJ) sudah diaudit dan sangat kuat. Yang akan diperkuat adalah yang di bawahnya ke arah Dago Bengkok," ungkap Farhan.
Pemerintah Kota Bandung pun meminta masyarakat dan pengguna jalan untuk bersabar. Pasalnya, perbaikan permanen ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar demi menjamin keamanan jangka panjang serta mencegah terjadinya longsor susulan di masa mendatang.
"Saya mohon maaf agak lama, penguatannya dilakukan dengan menyuntikkan beberapa kolom ke dalam lokasi longsoran. Sedang dikaji terus efektivitasnya," pungkas Farhan.