Sebanyak 11 petugas polisi tewas dan puluhan lainnya luka-luka dalam serangan mendadak terhadap pos pemeriksaan di Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan barat laut, Rabu (29/7) malam waktu setempat. Insiden terjadi di Distrik Hangu yang berbatasan langsung dengan Afghanistan, kawasan yang selama ini rawan konflik bersenjata.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Menurut pernyataan resmi kepolisian setempat, para penyerang memulai aksi dengan menerbangkan quadcopter berisi bahan peledak ke arah pos polisi. Setelah ledakan menghancurkan pertahanan awal, mereka langsung melancarkan serangan darat dan mengepung pos tersebut. Bentrokan sengit antara aparat keamanan dan kelompok bersenjata berlangsung selama berjam-jam.
Kepolisian Distrik Hangu, Mujahid Hussain, mengungkapkan bahwa para petugas yang bertahan berhasil menembak mati 15 orang penyerang. Namun di sisi lain, korban jiwa di kalangan polisi juga cukup besar. Sebanyak 28 petugas lainnya harus dilarikan ke rumah sakit akibat luka tembak dan ledakan.
Salah satu korban tewas adalah Deputy Superintendent Diyar Khan, yang memimpin pasukan bantuan yang tiba di lokasi. Pejabat kepolisian setempat menyampaikan duka mendalam atas gugurnya perwira tersebut. Pelaku juga membakar tiga mobil patroli dan membawa kabur satu kendaraan dinas lainnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada kelompok yang mengklaim tanggung jawab atas serangan terbaru ini. Namun peristiwa ini terjadi hanya beberapa hari setelah serangan bom bunuh diri di Distrik Tank yang menargetkan tentara Pakistan, yang diklaim oleh Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP) sebagai pelakunya.
Kelompok TTP memang telah lama melakukan perlawanan bersenjata terhadap negara Pakistan sejak 2007. Mereka berupaya menjatuhkan pemerintah dan menggantinya dengan sistem pemerintahan berbasis interpretasi ketat mereka sendiri. Serangan-serangan di sepanjang perbatasan Afghanistan-Pakistan belakangan ini meningkat tajam.
Konflik bersenjata antara Pakistan dan Afghanistan yang terjadi awal tahun ini menewaskan ratusan orang dan memicu eskalasi kekerasan di kawasan. Islamabad secara rutin menuduh pihak Afghanistan menyediakan tempat perlindungan aman bagi para militan untuk berlatih dan merencanakan serangan. Namun pemerintah Taliban Afghanistan membantah keras tuduhan tersebut.
Menurut laporan jurnalis Al Jazeera, Kamal Hyder, dari Islamabad, hubungan kedua negara saat ini berada di titik terendah sepanjang sejarah. Masing-masing pihak saling menuduh melindungi kelompok yang beraksi merugikan negara tetangga. Kondisi ini memperbesar potensi bentrokan baru yang lebih luas di masa mendatang.
Situasi keamanan di wilayah perbatasan barat laut Pakistan memang semakin memprihatinkan. Target serangan paling sering menyasar personel militer dan polisi, seiring dengan memburuknya hubungan diplomatik antara Islamabad dan Kabul. Masyarakat setempat pun hidup dalam ketakutan akan eskalasi kekerasan yang tak kunjung usai.