Paula Dreyfuss, seorang pensiunan asal Texas yang sebelumnya tinggal di San Diego, California, memutuskan pindah ke Portugal lima tahun lalu tanpa pernah mengunjungi negara Eropa itu sebelumnya. Keputusannya sempat dipertanyakan banyak orang, namun kini ia mengaku tak memiliki penyesalan sedikit pun.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Saat ini Dreyfuss tinggal di Porto, kota pesisir yang terkenal dengan wine Port dan jembatan spektakulernya. Ia mengaku memiliki kehidupan yang jauh lebih kaya dibanding saat di AS. "Saya memiliki lebih banyak kehidupan di sini," ujarnya kepada CNN Travel, seraya menikmati kunjungan rutin ke museum, bioskop, dan perkebunan wine di Douro Valley.
Dreyfuss sangat menyukai kuliner lokal dan biasanya makan di luar setidaknya tiga kali seminggu, sesuatu yang tidak mampu ia lakukan saat tinggal di San Diego. Ia sebelumnya bekerja sebagai guru setelah bertahun-tahun di bidang keuangan korporasi, dan menyadari pendapatan pensiunnya tak cukup untuk hidup nyaman di AS.
Ia sempat mempertimbangkan pindah ke kota lain di AS, bahkan melakukan perjalanan hingga Seattle untuk mencari tempat yang lebih terjangkau. Namun ia tak menemukan tempat yang cukup menarik. Akhirnya ia memutuskan untuk pindah ke Eropa, dan setelah riset, satu-satunya visa yang ia kualifikasi adalah D7 visa Portugal untuk non-UE dengan pendapatan pasif stabil.
Pandemi Covid-19 pada 2021 menjadi pemicu akhir bagi Dreyfuss untuk meninggalkan AS. Ia mengaku ingin menjauh dari situasi politik di Amerika Serikat. Ia lalu menjual townhouse-nya, menyingkirkan sebagian besar barang-barangnya, dan tiba di Portugal pada Mei 2021 dengan empat koper dan anjingnya, Charlie.
Awalnya ia menghabiskan waktu di Lisbon namun merasa kota itu terlalu besar dan "seperti tinggal di Amerika Serikat" karena keramaian dan lalu lintas yang padat. Ia lalu menyewa mobil dan menyusuri pantai hingga tiba di Porto, yang langsung memikatnya dengan keindahan, keragaman, dan suasana ramah. Ia bertemu agen real estate dalam hitungan jam dan menemukan apartemen dalam beberapa hari.
Dreyfuss sangat terkesan dengan penduduk Porto yang selalu hangat dan baik hati. Ia mengingat saat-saat di mana ia hampir menangis di pinggir jalan, seseorang selalu menawarkan bantuan. Hal itu menjadi pemicu baginya untuk betah, dan ia pun mulai banyak berteman. Kegiatannya kini dipenuhi dengan pertemuan untuk bermain game, makan malam, wine, dan kopi.
Salah satu keuntungan terbesar bagi Dreyfuss adalah rasa aman. Portugal menduduki peringkat ketujuh negara teraman di dunia menurut Global Peace Index. Ia merasa sangat aman berjalan sendirian di malam hari, berbeda dengan pengalamannya di San Diego. Porto juga sangat ramah pejalan kaki dan terasa seperti desa yang nyaman.
Biaya hidup di Portugal jauh lebih rendah, sekitar 40-50 persen lebih murah daripada di AS, menurut Dreyfuss. Ia juga menilai layanan kesehatan di Portugal "jauh lebih baik" baik dari segi biaya maupun kualitas. Portugal memiliki sistem kesehatan berbasis pajak dengan cakupan universal.
Meski demikian, Dreyfuss mengaku birokrasi di Portugal kadang menyulitkan, dan bahasa Portugis menjadi tantangan terbesarnya karena orang lokal berbicara sangat cepat dan menghilangkan kata-kata dalam kalimat. Ia juga harus belajar sopan santun lokal seperti menyapa sebelum berbicara di toko.
Sejak pindah, Dreyfuss telah bepergian ke London empat kali, Paris tiga kali, Seville dua kali, serta mengunjungi Wina, Marseille, dan Toulouse. Ia berharap menjelajahi Italia dan pantai Atlantik Eropa dalam waktu dekat. Hal itu tak mungkin ia lakukan jika tetap tinggal di AS, ujarnya.
Dreyfuss kini memiliki kewarganegaraan sementara yang diperbarui setiap dua hingga tiga tahun, dan baru-baru ini memulai proses pengajuan kewarganegaraan Portugis. Ia merasa sangat betah dan tak bisa membayangkan kembali ke AS secara permanen. "Mereka harus memperbaiki banyak hal sebelum saya mau pindah kembali," katanya.
Meski ia merindukan keluarga dan teman-temannya di AS, serta supermarket Trader Joe's, Dreyfuss mengatakan setiap kali kembali ke Portugal ia merasa lega dan seperti pulang ke rumah. "Saya benar-benar tidak merindukan rasa takut," ujarnya. "Itulah yang membuat saya lebih bahagia di sini."