Kabayan News Kabayan News
/home / berita / Profil Abdurrahman Wahid, Presiden...
BERITA

Profil Abdurrahman Wahid, Presiden Keempat RI dan Bapak Pluralisme

By Redaksi Kabayan News • 2 min read • 7 September 1940
Potret Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai Presiden Keempat Republik Indonesia

Potret Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai Presiden Keempat Republik Indonesia

Abdurrahman Wahid atau lebih akrab disapa Gus Dur lahir dengan nama Abdurrahman ad-Dakhil di Jombang, Jawa Timur, pada tanggal 7 September 1940. Tokoh nasional ini merupakan putra dari Menteri Agama Wahid Hasyim serta cucu dari pendiri Nahdlatul Ulama, Hasyim Asy'ari. Selain memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut, ia juga tercatat sebagai pendiri Partai Kebangkitan Bangsa.

Perjalanan kepemimpinan Gus Dur sebagai presiden Indonesia keempat dimulai sejak tahun 1999 hingga 2001. Selama masa pemerintahannya, ia dikenal dengan berbagai kebijakan visioner serta langkah berani dalam meruntuhkan batasan diskriminasi. Pengaruh besar dalam Reformasi Indonesia mencakup pembubaran Departemen Penerangan demi kebebasan pers, mencabut larangan perayaan Tahun Baru Imlek, serta menetapkan Konfusianisme sebagai agama resmi keenam di tanah air.

Berdasarkan pengamatan tim redaksi, kebijakan progresif tersebut mengukuhkan statusnya sebagai pembela Hak Asasi Manusia yang konsisten melindungi hak kelompok minoritas. Berbagai kalangan Tionghoa Indonesia memberikan gelar terhormat sebagai Bapak Tionghoa dan Bapak Pluralisme atas jasanya menghapus penindasan era Orde Baru. Meskipun kepemimpinannya diwarnai dinamika politik tinggi hingga berujung pada pemakzulan oleh MPR pada Juli 2001, warisan pemikiran Gus Dur tetap hidup sebagai guru bangsa.

Masa kecil dan pendidikan Gus Dur diwarnai lingkungan pesantren di Jombang sebelum pindah ke Jakarta mengikuti ayahnya yang memimpin Partai Masyumi. Ia menempuh pendidikan menengah di Yogyakarta dan Magelang, di mana ia menunjukkan kecerdasan luar biasa dengan menyelesaikan sekolah pesantren dalam waktu singkat. Selain mendalami ilmu agama, ia juga aktif menulis sebagai jurnalis untuk berbagai majalah ternama pada masa mudanya.

Petualangan intelektual Gus Dur berlanjut ketika ia menerima beasiswa belajar Studi Islam di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, pada tahun 1963. Namun, perbedaan metode pengajaran membuatnya pindah ke Universitas Baghdad di Irak hingga menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1970. Sekembalinya ke tanah air pada tahun 1971, ia mendedikasikan diri bergabung dengan LP3ES, berkeliling pesantren di Jawa, serta menulis artikel kritis untuk majalah Tempo dan surat kabar Kompas.

Topics
abdurrahman wahid gus dur presiden indonesia nahdlatul ulama tokoh pluralisme sejarah indonesia politik
Tim Jurnalis & Analis Berita

Redaksi Kabayan News adalah tim jurnalis profesional, analis, dan kreator konten yang berdedikasi menyajikan berita nasional dan internasional terlengkap. Dari berita politik breaking news hingga analisis ekonomi mendalam, kami hadir untuk masyarakat Indonesia yang cerdas dan haus akan informasi berkualitas.