Mohammed bin Rasyid al-Maktoum merupakan sosok sentral dalam modernisasi Uni Emirat Arab (UEA) dan dikenal luas sebagai penguasa yang membawa Dubai ke panggung dunia. Lahir pada 22 Juli 1949, ia kini memegang jabatan strategis sebagai Perdana Menteri ke-3 UEA serta Wakil Presiden UEA, selain perannya sebagai Emir Dubai.
Jejak kepemimpinannya dimulai saat ia menjabat sebagai Putra Mahkota Dubai pada tahun 1995 hingga 2006. Pasca wafatnya sang kakak, Sheikh Maktoum bin Rashid Al Maktoum, ia resmi menjadi penguasa Dubai pada 4 Januari 2006. Tidak lama setelah itu, ia dinominasikan sebagai Perdana Menteri dan Wakil Presiden UEA oleh Presiden UEA saat itu, Sheikh Khalifa bin Zayed Al Nahyan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDunia mengenal Sheikh Mohammed sebagai motor penggerak pembangunan megah di Dubai. Ia mengawasi langsung berbagai proyek infrastruktur ambisius, termasuk penciptaan Palm Islands yang ikonik serta pembangunan hotel mewah Burj Al Arab. Visi futuristiknya memuncak pada peresmian Burj Khalifa pada 4 Januari 2010, yang hingga kini memegang rekor sebagai struktur berdiri bebas tertinggi di dunia.
Selain karier politik dan bisnis, sang Emir juga dikenal memiliki minat mendalam pada sastra dan olahraga. Ia merupakan penggemar puisi Arab tradisional, khususnya genre Nabati, dan aktif dalam kancah pacuan kuda internasional. Melalui Godolphin Stables dan penyelenggaraan Dubai World Cup, ia telah menempatkan Dubai sebagai pusat industri balap kuda global yang bergengsi.
Filantropi dan Tantangan dalam Pemerintahan
Di balik pencapaian bisnis dan politiknya, Sheikh Mohammed juga menaruh perhatian besar pada bidang kemanusiaan. Pada 2007, ia mengumumkan peluncuran Mohammed bin Rashid Al Maktoum Foundation dengan hibah senilai US$100 juta yang bertujuan meningkatkan standar pendidikan dan penelitian di dunia Arab guna menjembatani kesenjangan pengetahuan.
Inisiatif sosial lainnya mencakup kampanye Dubai Cares yang berfokus pada penyediaan pendidikan dasar bagi jutaan anak di negara-negara kurang mampu. Selain itu, melalui inisiatif Noor Dubai, ia bekerja sama dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk memberikan layanan kesehatan bagi penderita kebutaan yang dapat disembuhkan di berbagai belahan dunia.
Meski memiliki reputasi global yang mentereng, kepemimpinannya tidak lepas dari sorotan dan kontroversi. Salah satu isu yang sempat mencuat adalah kritik terkait praktik penggunaan joki unta di bawah umur, yang kemudian ditanggapi pemerintah UEA dengan pelarangan resmi dan penerapan sanksi hukum guna mengakhiri eksploitasi tersebut.
Terlepas dari berbagai dinamika tersebut, pengaruh Sheikh Mohammed dalam memajukan Dubai sebagai pusat ekonomi modern tetap tidak terbantahkan. Hingga saat ini, ia terus melanjutkan kiprahnya dalam membangun ekosistem bisnis yang terdiversifikasi melalui Dubai Holding, perusahaan induk yang dikelolanya untuk memperkuat posisi ekonomi UEA di kancah internasional.