Sebagaimana diwartakan dalam laporan investigasi mendalam, kawasan perbatasan di Ceuta dan Melilla berdiri megah bak taman jurasik dengan kawat berduri dan parit pertahanan. Mengutip laporan media, wilayah enklave Spanyol yang terletak di daratan Afrika ini dihuni oleh puluhan ribu jiwa dari latar belakang budaya yang beragam, namun kini telah berubah menjadi simbol benteng pertahanan yang memisahkan dunia utara dan selatan.
Berdasarkan catatan sejarah, hubungan masyarakat di kawasan tersebut dulunya jauh lebih cair tanpa sekat pembatas yang ketat. Namun, transformasi ekonomi global dan integrasi Spanyol ke dalam sistem kapitalis Eropa pada dekade-dekade berikutnya mendorong pembangunan tembok perbatasan masif guna membendung arus migrasi massal.
Dalam praktiknya, kebijakan perbatasan ini memicu berbagai bentuk ketimpangan sosial dan eksploitasi ekonomi yang dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar maupun para migran. Sebagaimana dijelaskan dalam laporan tersebut, "Tembok ini bukan hanya untuk meredam arus migrasi, melainkan cerminan dari struktur ketidaksetaraan global yang kian mengakar".
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe