Terapi deep brain stimulation atau DBS terbukti efektif mengatasi gangguan gerak, termasuk penyakit Parkinson serta tremor esensial, namun mekanisme seluler di balik efektivitasnya baru saja terungkap.
Berdasarkan laporan jurnal ilmiah Nature, penelitian bersama yang dipimpin oleh para ahli dari UT Southwestern Medical Center dan UCLA berhasil mengidentifikasi perubahan molekuler pada jaringan otak manusia.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMenurut penjelasan Dr. Bradley Lega selaku profesor bedah saraf di UT Southwestern, DBS bekerja dengan memodifikasi unit pembentuk pikiran serta memori sekaligus sistem seluler pendukung di sekitarnya.
Selama bertahun-tahun, para ilmuwan meyakini bahwa impuls listrik dari elektroda yang ditanamkan mampu mengganggu pola aktivitas otak patologis, meski bukti molekuler pastinya belum pernah diketahui secara langsung.
Kendala utama penelitian sebelumnya terletak pada ketidakmungkinan eksperimen langsung pada jaringan otak pasien hidup serta perbedaan struktur anatomi otak manusia dengan hewan.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, Dr. Lega bersama tim mengembangkan metode inovatif dalam menjaga kelangsungan hidup jaringan otak manusia hasil operasi epilepsi di laboratorium.
Melalui pengujian pada sampel jaringan donor, para peneliti merangsang sel-sel menggunakan elektroda mikro dan mendapati peningkatan plastisitas serta kekuatan sinyal pada rakitan saraf.
Analisis lanjutan menunjukkan bahwa stimulasi listrik tersebut tidak hanya memengaruhi neuron penggerak memori, melainkan turut berdampak signifikan terhadap aktivitas sel glial pendukung.