Di tengah maraknya pemberitaan media mengenai isu pusat data dan potensi gejolak ekonomi, mayoritas warga Amerika Serikat justru menunjukkan sikap optimistis terhadap kecerdasan buatan (AI). Berdasarkan survei nasional yang dilakukan oleh HarrisX, sebanyak 56 persen pemilih menyatakan memiliki pandangan positif terhadap AI, sementara 36 persen lainnya berpandangan negatif.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Survei tersebut mencatat bahwa 72 persen responden setuju AI mampu membantu manusia menghemat waktu untuk tugas-tugas rutin. Selain itu, 71 persen pemilih percaya bahwa kehadiran teknologi ini merupakan awal dari revolusi industri baru.
Direktur Eksekutif Build American AI, Nathan Leamer, menilai masyarakat sebenarnya sangat optimistis terhadap manfaat AI. Menurutnya, publik melihat potensi besar AI mulai dari terobosan medis hingga dorongan pertumbuhan ekonomi.
"Masyarakat Amerika sebenarnya cukup optimistis mengenai manfaat yang akan dibawa AI ke dalam kehidupan mereka, mulai dari terobosan medis hingga pertumbuhan ekonomi. Data kami menunjukkan adanya peluang nyata bagi pembuat undang-undang, pemimpin industri, dan advokasi inovasi untuk merangkul warga Amerika pada isu-isu yang mereka pedulikan," ujar Nathan Leamer.
Survei yang diprakarsai oleh kelompok advokasi nirlaba Build American AI ini menegaskan bahwa persepsi mengenai penolakan publik secara masif terhadap AI dinilai terlalu berlebihan. Publik dianggap sudah cukup memahami potensi positif yang ditawarkan oleh teknologi tersebut.
Hasil riset menunjukkan 61 persen responden setuju AI dapat membantu menyembuhkan penyakit, menemukan obat baru, dan mempercepat sains. Selain itu, 64 persen pemilih meyakini AI bakal meningkatkan daya saing AS terhadap China, serta 60 persen menganggap AI dapat membantu proses reindustrialisasi domestik.
Meski demikian, perdebatan mengenai risiko keselamatan masih cukup ketat. Sebanyak 53 persen pemilih merasa AS harus bergerak cepat mengembangkan AI karena persaingan negara asing, sementara 47 persen lainnya tidak sependapat.
Di sisi lain, pembangunan pusat data AI sempat memicu kontroversi terkait konsumsi energi dan dampak lingkungan. Gubernur New York, Kathy Hochul, bahkan sempat menerapkan moratorium pembangunan pusat data selama satu tahun, meski kebijakan tersebut menuai kritik keras dari pelaku usaha lokal hingga President Trump.
Kekhawatiran juga sempat dihembuskan oleh beberapa pimpinan industri, seperti CEO Anthropic Dario Amodei, yang memperingatkan potensi hilangnya pekerjaan kantoran seiring makin canggihnya AI. Namun, Gedung Putih dan sejumlah petinggi teknologi tetap menegaskan bahwa AI tingkat lanjut sangat krusial bagi keamanan nasional.