Mantan Perdana Menteri Pakistan Imran Khan kini telah menjalani masa tiga tahun penahanan di balik jeruji besi pada Rabu, memicu gelombang desakan baru dari para aktivis hak asasi manusia agar otoritas segera memulihkan akses komunikasi dan medisnya.
Amnesty International mendesak pemerintah Pakistan untuk mengakhiri pembatasan penahanan yang dinilai melanggar hukum serta memulihkan hak Imran Khan dan istrinya, Bushra Bibi Khan, untuk menemui keluarga maupun tim kuasa hukum mereka.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBerdasarkan pengamatan redaksi, organisasi internasional tersebut secara tegas meminta agar isolasi ketat yang diberlakukan terhadap sang politisi segera dihentikan demi menjamin hak atas perawatan kesehatan yang memadai.
Sementara itu, partai pengusung Imran Khan, Pakistan Tehreek-e-Insaf (PTI), menyatakan bahwa tokoh oposisi tersebut berada dalam isolasi total tanpa ada pertemuan sama sekali dengan pihak luar selama lebih dari delapan bulan terakhir.
Dari analisis awak media, penahanan panjang ini justru semakin mengukuhkan citra Imran Khan sebagai figur perlawanan politik di mata sebagian besar masyarakat, khususnya kalangan generasi muda Pakistan.
Pemerintah Pakistan sendiri sebelumnya sempat merilis dokumentasi kondisi sel tahanan guna menepis berbagai tudingan mengenai perlakuan buruk serta isolasi tanpa akses hukum yang dialami oleh sang mantan perdana menteri.