Ketakutan melanda kubu Demokrat menyusul wawancara seorang pemimpin Democratic Socialists of America (DSA) di Fox News yang viral. Pernyataan kontroversial tentang penghapusan Senat dan penjara dinilai akan menjadi bahan serangan ampuh bagi Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Kekhawatiran ini memuncak setelah Megan Romer, salah satu ketua DSA, menjawab serangkaian pertanyaan cepat dalam wawancara akhir pekan lalu. Romer mengaku benar ketika ditanya tentang platform organisasinya yang mencakup penghapusan Senat dan penjara sebagai tujuan jangka panjang.
Momen tersebut kini beredar luas di media sosial dan turut dibahas di berbagai jaringan berita kabel lainnya. Para politisi Demokrat menilai waktu kejadian sangat buruk, mengingat semakin dekatnya hari pemungutan suara.
Strateg Demokrat Steve Schale menyebut pernyataan Romer membuat partainya kehilangan fokus. Alih-alih membahas isu harga kebutuhan pokok, kandidat Demokrat kini harus menghabiskan waktu dan sumber daya untuk menjawab tuduhan radikal.
Dalam wawancara dengan Shannon Bream, Romer juga menyatakan dukungan untuk mengganti kepresidenan dan Mahkamah Agung, menghapus Imigrasi dan Bea Cukai AS, serta membatasi anggaran Pentagon. Semua pernyataan itu dijawab dengan tegas oleh Romer.
Partai Republik langsung memanfaatkan momen ini. Ketua DPR Mike Johnson menulis di media sosial bahwa komunisme bukan lagi ancaman jauh, melainkan sudah ada di "pantai" Amerika. Pernyataan ini menjadi bukti bagi Demokrat moderat tentang apa yang akan mereka hadapi.
Seorang strateg Demokrat menggambarkan situasi ini sebagai mimpi buruk dan hadiah bagi Partai Republik. Kekhawatiran semakin besar karena kandidat DSA meraih sejumlah kemenangan di pemilihan pendahuluan, termasuk di New York dan Colorado.
Namun di internal DSA sendiri, beberapa anggota mengakui wawancara tersebut bisa merugikan perjuangan mereka. Seorang anggota mengatakan penting bagi DSA untuk lebih bijak dalam menyampaikan pesan, terutama di ruang seperti Fox News yang punya audiens pekerja luas.
Pengacara dan donatur senior Demokrat, John Morgan, memprediksi iklan serangan akan muncul. Ia menilai pemilih independen akan enggan mendukung platform yang dianggap ingin membongkar sistem demokrasi dan kapitalisme yang sudah mapan.
Strateg Demokrat Hyma Moore menambahkan bahwa wawancara ini akan menyakiti kandidat DSA terlebih dahulu, namun dampaknya akan membebani seluruh partai. Menurutnya, publik tidak ingin melihat sistem dibakar habis, dan ini akan menjadi beban berat yang harus diwaspadai Demokrat.
Kekhawatiran ini mengingatkan pada serangan kampanye 2024 yang menyoroti dukungan Kamala Harris terhadap operasi transgender bagi tahanan, yang saat itu dinilai sangat merugikan Demokrat. Kini, ketakutan serupa kembali menghantui mereka.
Meski demikian, kandidat DSA yang meraih kemenangan justru menilai bahwa keberhasilan mereka berasal dari pergeseran basis akar rumput yang kecewa dengan partai. Mereka menilai Demokrat terlalu dekat dengan kepentingan korporasi dan kurang tegas terhadap Israel terkait Gaza.