Lonjakan imbal hasil obligasi jangka panjang Amerika Serikat memicu perdebatan tajam mengenai faktor pendorong utamanya di antara pejabat Federal Reserve dan para pelaku pasar di Wall Street. Imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun sempat menyentuh level 4,814% pada pekan ini, yang merupakan posisi tertinggi sejak November 2023, sementara obligasi Treasury 30 tahun berada di kisaran 5,12%.
Pejabat The Fed menilai kenaikan imbal hasil tersebut mencerminkan ketangguhan ekonomi yang didorong oleh investasi besar pada teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence dan pusat data. Presiden Fed New York John Williams menyatakan bahwa kondisi ekonomi yang kuat menjadi alasan utama kenaikan biaya pendanaan investasi tersebut.
Namun, pandangan berbeda disampaikan oleh para pelaku pasar di Wall Street yang merasa cemas terhadap kombinasi faktor risiko seperti inflasi yang persisten, lonjakan harga minyak di atas USD 95 per barel akibat konflik Timur Tengah, serta pembengkakan utang pemerintah yang telah melampaui USD 40 triliun.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSejumlah ekonom dan pengamat pasar menilai bahwa pasokan obligasi yang masif dari perusahaan teknologi besar untuk membiayai infrastruktur AI turut bersaing ketat dengan surat utang pemerintah. Kondisi ini membuat investor menuntut kompensasi atau term premium yang lebih tinggi untuk memegang utang jangka panjang di tengah ketidakpastian fiskal global.
Faktor Risiko Defisit dan Utang Pemerintah AS
Kekhawatiran mengenai kesinambungan fiskal juga diakui oleh sebagian pejabat bank sentral yang melihat adanya risiko dari tingkat defisit anggaran yang mencapai 6% dari produk domestik bruto. Gubernur Fed Chris Waller menyatakan bahwa investor mulai menuntut imbal hasil lebih tinggi sebagai bentuk kompensasi atas risiko fiskal dan ketidakpastian global.
Para ekonom seperti Jeroen Blokland dari True Insights mengingatkan bahwa volume utang pemerintah yang saat ini jauh lebih besar dibandingkan krisis 2008 menjadikan situasi pasar obligasi saat ini jauh lebih rentan. Defisit anggaran yang lebar serta tingginya penerbitan obligasi terus menekan pasar keuangan global secara signifikan.
Di sisi lain, Kepala Riset Ekonomi RSM Joseph Brusuelas berpendapat bahwa lonjakan harga minyak mentah merupakan pemicu utama yang menyeret imbal hasil obligasi global dan AS ke level yang lebih tinggi. Kombinasi risiko inflasi dan keberlanjutan fiskal tersebut dinilai masih akan membayangi pasar dalam waktu dekat.
Para analis memperkirakan tekanan pada pasar obligasi dapat mendorong imbal hasil Treasury 10 tahun melampaui level 5% pada akhir tahun ini apabila pertumbuhan ekonomi tetap kuat di tengah pasokan surat utang yang terus meningkat.