Harga emas dunia diprediksi UBS bakal melonjak hingga mencapai level USD 5.000 per ons pada semester pertama tahun depan seiring dengan tren reli positif yang terus berlanjut. Penguatan harga logam mulia tersebut didukung oleh fundamental pasar yang kuat serta meningkatnya minat investor global terhadap aset safe haven.
Kontrak berjangka emas mencatatkan lonjakan sebesar 2 persen menyusul rilis data laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan pasar. Lemahnya data tenaga kerja tersebut secara otomatis menurunkan probabilitas kenaikan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve pada tahun ini.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBerdasarkan catatan pasar, logam mulia emas telah membukukan kenaikan lebih dari 8 persen hanya dalam kurun waktu lima sesi perdagangan terakhir. Sebagian besar dorongan reli harga ini berasal dari peningkatan aksi beli oleh investor asal Tiongkok serta arus masuk modal yang konsisten ke dalam produk exchange-traded funds.
Selain itu, langkah taktis yang diambil oleh otoritas Amerika Serikat dan Jepang dalam menstabilkan nilai tukar yen turut meredakan kekhawatiran terjadinya aksi jual masif pada surat berharga US Treasurys. Stabilitas pasar obligasi ini mencegah lonjakan imbal hasil obligasi yang biasanya menjadi sentimen negatif bagi pergerakan komoditas logam mulia.
Kebijakan Suku Bunga Fed dan Aksi Borong Bank Sentral
Chief Investment Officer UBS Ulrike Hoffmann-Burchardi bersama tim risetnya menyampaikan bahwa reli harga emas saat ini memiliki fondasi pendukung yang solid. Mereka memproyeksikan lintasan harga emas berpotensi melaju kencang menuju target USD 5.000 per ons pada awal tahun 2027.
Meskipun demikian, para analis UBS tetap memperingatkan adanya potensi risiko jangka pendek apabila harga minyak mentah kembali merangkak naik atau pasar mengantisipasi sikap bank sentral yang lebih hawkish. Namun secara jangka menengah hingga panjang, prospek emas dinilai tetap sangat menjanjikan.
UBS memperkirakan tingkat inflasi global akan berangsur mereda secara bertahap, sehingga memberikan ruang bagi Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga stabil tahun ini sebelum kembali melanjutkan siklus pelonggaran moneter pada 2027.
"Kondisi tersebut bakal menciptakan lanskap yang jauh lebih ramah bagi emas, sebab pergeseran ekspektasi suku bunga rendah cenderung menurunkan imbal hasil riil, melemahkan posisi dolar Amerika Serikat, serta mendongkrak permintaan investasi emas," tulis tim analis UBS.