Kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve sering kali menjadi sorotan utama pelaku pasar global ketika menghadapi krisis keuangan. Salah satu konsep paling populer dalam sejarah kebijakan tersebut dikenal sebagai Fed Put, yang merujuk pada respons intervensi saat pasar saham mengalami kejatuhan tajam.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Istilah ini berakar dari era kepemimpinan Alan Greenspan yang pertama kali menerapkannya saat terjadi peristiwa kejatuhan pasar saham pada tahun 1987. Melalui berbagai instrumen seperti perjanjian pembelian kembali atau repurchase agreements, bank sentral memberikan jaminan tersirat bahwa mereka akan turun tangan memulihkan kondisi pasar.
Kendati dinilai sukses meredam kepanikan di berbagai momen krisis, pendekatan ini memicu perdebatan panjang di kalangan ekonom. Para kritikus menilai kebijakan tersebut membuat sektor perbankan investasi dan pelaku pasar menjadi terlalu bergantung pada suntikan likuiditas, sehingga berulang kali menciptakan gelembung harga aset.
Seiring bergantinya kepemimpinan di Federal Reserve mulai dari Ben Bernanke, Janet Yellen, hingga Jerome Powell, instrumen penyelamatan ini terus bertransformasi dengan skala yang semakin masif. Puncak dari kebijakan longgar tersebut terjadi selama masa pandemi COVID-19, di mana suntikan likuiditas besar-besaran melahirkan fenomena yang disebut sebagai everything bubble di berbagai kelas aset.
Namun, seiring melonjaknya tekanan inflasi global, bank sentral terpaksa mengubah arah kebijakan secara drastis dengan menaikkan suku bunga dan memperketat likuiditas. Sejumlah pengamat menilai era perlindungan mutlak bagi pasar keuangan tersebut telah berakhir karena otoritas moneter kini lebih memprioritaskan stabilitas harga.