Kabayan News Kabayan News
/home / berita / Profil Canal Street, Jantung Gay...
BERITA

Profil Canal Street, Jantung Gay Village Manchester yang Ikonik

By Redaksi Kabayan News • 4 min read • 31 Juli 2026
Canal Street, pusat Gay Village Manchester dengan kanal dan bar ikonik

Canal Street, pusat Gay Village Manchester dengan kanal dan bar ikonik

Canal Street, sebuah jalan di pusat kota Manchester, Inggris, dikenal sebagai jantung dari kawasan Gay Village yang paling sukses di Eropa. Jalan yang dilalui pejalan kaki ini membentang di sepanjang sisi barat Rochdale Canal dan dipenuhi dengan bar serta restoran yang ramah bagi komunitas LGBT. Ujung utara jalan bertemu dengan Minshull Street, sementara ujung selatannya terhubung dengan Princess Street, menghadap ke Rochdale Canal dan Sackville Gardens.

Sejarah Canal Street bermula pada 1804 ketika Rochdale Canal dibangun sebagai jalur perdagangan yang melintasi kota. Pubs dan bisnis lainnya muncul untuk melayani para pengguna kanal, terutama mereka yang berhenti di pintu air terdekat. Namun, baru pada abad ke-20 kawasan ini mulai terkait dengan komunitas gay. Pada 1950-an, penggunaan kanal menurun drastis karena persaingan dengan moda transportasi lain, dan kawasan yang dulunya dipenuhi pabrik kapas ini berubah menjadi distrik lampu merah di malam hari.

Setelah industri kapas di Inggris Utara runtuh, kawasan ini mengalami kemunduran urban. Namun, area di sepanjang kanal justru menjadi tempat yang sempurna bagi pria gay untuk bertemu secara sembunyi-sembunyi karena gelap dan sepi, tapi tetap dekat dengan stasiun kereta Oxford Road dan Piccadilly. Pada 1980-an, suasana semakin tegang ketika Kepala Kepolisian Greater Manchester, James Anderton, menuduh komunitas gay berperilaku tidak senonoh dan mendorong anak buahnya untuk mengintai para pengunjung kanal dengan perahu bermotor.

Babak baru dimulai pada 1990 dengan dibukanya Manto, sebuah bar gay yang menjadi katalis perkembangan Village. Dibangun oleh pengembang properti gay Carol Ainscow bersama mitra bisnisnya Peter Dalton, Manto mengubah bekas bengkel perbaikan mobil menjadi bar dengan jendela kaca besar yang memungkinkan orang melihat ke dalam. Ini adalah pertama kalinya di kawasan itu, dan menjadi pernyataan visual berani bahwa komunitas gay tidak lagi bersembunyi. Ainscow mengaku awalnya Manto terus merugi selama enam bulan karena orang takut terlihat di sana.

Pengakuan resmi dari Manchester City Council pada 1990-an turut mendorong perkembangan kawasan. Dewan kota mengadopsi sejumlah kebijakan non-diskriminasi berbasis seksualitas, mendirikan unit HIV/AIDS, dan memberikan dukungan besar terhadap Mardi Gras serta pembelian Sackville Street Gardens. Manchester bahkan menjadi dewan kota pertama di Inggris yang mendukung kemitraan sipil bagi pasangan sesama jenis.

Kesuksesan Canal Street sebagai pusat gay village membawa dampak positif, namun juga tantangan. Masuknya pengunjung heteroseksual termasuk hen parties ke Village memicu ketegangan. Beberapa bar menerapkan kebijakan pintu yang ketat untuk menyaring pengunjung, namun hal ini justru berbalik merugikan sebagian komunitas LGBT yang juga ditolak masuk. Pada 2004, terjadi boikot terhadap Slug and Lettuce karena menolak mendukung Manchester Pride, yang akhirnya menyebabkan bar tersebut tutup.

Pada 2013, penutupan Manto setelah 22 tahun beroperasi menjadi simbol perubahan besar. Amelia Lee dari LGBT Youth North West menyatakan bahwa Canal Street kini lebih ramai digunakan untuk acara hen party daripada untuk komunitas LGBT, dan ia menilai kawasan ini perlu beradaptasi untuk memenuhi kebutuhan komunitas yang lebih beragam. Kekhawatiran semakin meningkat seiring dengan sejumlah serangan homofobik, termasuk kasus Simon Brass yang dilempar ke kanal dan hampir tenggelam pada Juni 2013.

Aktivis gay Peter Tatchell angkat bicara pada 2015 melalui Manchester Evening News, menegaskan bahwa Canal Street tidak boleh kehilangan karakternya sebagai distrik gay. "Akan sangat salah jika ada upaya sepihak untuk mengubah karakternya. Saya mendukung evolusi, tetapi harus dengan persetujuan komunitas LGBTI. Kita belum pada titik di mana distrik gay tidak lagi dibutuhkan," ujarnya.

Ancaman terbaru datang dari rencana pembangunan 800 unit rumah mewah di sekitar Canal Street. Para pemilik bar yang memiliki izin buka hingga larut malam khawatir akan terjadi konflik kepentingan dengan penghuni baru. Kritik juga muncul karena kurangnya konsultasi dan penggantian nama area menjadi "Portland Village" oleh pengembang.

Menanggapi dinamika ini, Manchester City Council bersama konsultan HATCH meluncurkan Manchester's Gay Village Action Plan pada 2024. Rencana aksi ini bertujuan untuk mempertahankan, melestarikan, dan meningkatkan kawasan LGBT berdasarkan konsultasi serta umpan balik dari komunitas. Langkah ini diharapkan menjadi solusi bagi Canal Street yang kini berada di persimpangan antara mempertahankan sejarah dan beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Topics
canal street gay village manchester lgbt manchester queer as folk rochdale canal manchester pride manto peter tatchell sejarah lgbt manchester city council
Tim Jurnalis & Analis Berita

Redaksi Kabayan News adalah tim jurnalis profesional, analis, dan kreator konten yang berdedikasi menyajikan berita nasional dan internasional terlengkap. Dari berita politik breaking news hingga analisis ekonomi mendalam, kami hadir untuk masyarakat Indonesia yang cerdas dan haus akan informasi berkualitas.