Dunia keuangan kerap diramaikan oleh berbagai metode untuk mengukur apakah sebuah pasar saham sedang berada di posisi wajar, murah, atau justru mahal. Salah satu teori yang paling sering memicu perdebatan sengit di kalangan ekonom dan praktisi pasar adalah Fed Model atau yang juga dikenal sebagai Fed Stock Valuation Model (FSVM). Teori ini pada dasarnya membandingkan proyeksi imbal hasil laba satu tahun ke depan dari suatu indeks saham gabungan dengan imbal hasil nominal obligasi jangka panjang yang diterbitkan oleh pemerintah.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Secara konsep, Fed Model berasumsi bahwa pasar saham secara keseluruhan dinilai wajar apabila imbal hasil laba masa depan setara dengan imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun. Apabila terjadi penyimpangan di antara keduanya, hal tersebut kerap dibaca sebagai indikasi bahwa pasar sedang mengalami undervalue atau overvalue. Istilah ini sendiri pertama kali dicetuskan oleh analis Deutsche Bank, Edward Yardeni, pada akhir dekade 1990-an ketika mengomentari laporan dan kesaksian dari Gubernur Federal Reserve saat itu, Alan Greenspan.
Kendati sering digunakan oleh para pelaku pasar di Wall Street karena kerap memunculkan sinyal beli, Fed Model menyimpan banyak catatan kritis dari kalangan akademisi. Hubungan statistik antara imbal hasil saham dan obligasi pemerintah tercatat hanya terbukti valid di Amerika Serikat pada periode tertentu saja, yakni rentang tahun 1921 hingga 1928 serta 1987 hingga 2000. Di luar periode tersebut, termasuk dalam analisis jangka panjang secara global, teori ini dinilai kerap gagal memberikan prediksi yang akurat.
Sejumlah pengamat pasar dan akademisi bahkan secara terbuka melontarkan kritik pedas terhadap keandalan model ini. Andrew Smithers, mantan Chief Investment Officer S. G. Warburg & Co., pernah menyebut bahwa dukungan statistik terhadap Fed Model bukan sekadar omong kosong, melainkan bentuk penambangan data paling mencolok yang pernah ia temui selama puluhan tahun mempelajari pasar keuangan. Kritik serupa juga disampaikan oleh berbagai lembaga riset independen yang membuktikan bahwa kemampuan prediktif Fed Model terhadap imbal hasil jangka panjang sangatlah rendah.
Selain persoalan data historis, kelemahan mendasar dari Fed Model terletak pada perbandingan antara metrik riil yang sensitif terhadap inflasi dengan suku bunga nominal yang bersifat tetap. Selain itu, model ini secara implisit mengasumsikan bahwa profil risiko kepemilikan saham setara dengan obligasi pemerintah, padahal kedua instrumen tersebut memiliki tingkat risiko yang jauh berbeda. Oleh karena itu, para ahli menyarankan agar investor tidak serta-merta menjadikan Fed Model sebagai acuan tunggal dalam mengambil keputusan investasi di pasar modal.