Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat melambat pada kuartal kedua tahun ini, di bawah proyeksi para ekonom. Data dari Departemen Perdagangan AS pada Kamis (30/7) menunjukkan produk domestik bruto atau GDP tumbuh pada tingkat tahunan sebesar 1,5%, turun dari capaian kuartal I yang sebesar 2,1%.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Angka tersebut mengecewakan karena para ekonom yang disurvei oleh Bloomberg memperkirakan pertumbuhan sebesar 2%. Perlambatan ini terjadi meskipun belanja konsumen, yang merupakan mesin utama ekonomi AS, justru menunjukkan penguatan yang signifikan.
Komponen inflasi dalam laporan GDP juga mencuri perhatian. Indeks harga GDP, yang mengukur harga seluruh barang dan jasa di AS, melonjak 6,2% secara tahunan, jauh di atas estimasi 4% dan lebih tinggi dari kenaikan 3,6% pada kuartal sebelumnya.
Namun, ukuran "inti" yang tidak memasukkan harga makanan dan energi yang fluktuatif, hanya naik 3,4%, sesuai perkiraan dan melambat dari 4,4% pada kuartal I. Data ini memberikan sinyal bahwa tekanan inflasi mendasar mungkin mulai mereda, meskipun harga energi masih tinggi.
Data ekonomi yang beragam ini menyulitkan langkah Federal Reserve (The Fed). Sehari sebelumnya, bank sentral memutuskan untuk menahan suku bunga acuan. Kini, mereka dihadapkan pada skenario pertumbuhan melambat tetapi inflasi masih tinggi yang memicu kekhawatiran akan "stagflasi". Pertanyaan besarnya adalah berapa lama tekanan harga energi akibat perang di Iran akan terus membebani ekonomi.
Meski pertumbuhan melambat, ada secercah harapan dari sisi konsumen. Personal consumption yang mengukur pengeluaran rumah tangga AS, justru melesat 3,2% secara tahunan, melampaui perkiraan 2,2% dan melonjak jauh dari kenaikan 0,5% pada kuartal sebelumnya. Ini menandakan bahwa masyarakat AS masih terus berbelanja, yang menjadi penopang utama ekonomi.
Departemen Perdagangan menyebutkan bahwa pertumbuhan ditopang oleh investasi di bidang peralatan industri, transportasi, dan pemrosesan informasi. Selain itu, ekspor minyak mentah melonjak karena pembeli asing beralih ke AS setelah pasokan dari Timur Tengah terganggu. Laporan tersebut mencatat "perlambatan belanja pemerintah dan investasi serta ekspor yang sebagian diimbangi oleh percepatan belanja konsumen".
Sementara itu, data indeks harga belanja konsumen pribadi atau PCE, yang menjadi tolok ukur inflasi favorit The Fed, juga turun dirilis. Inflasi PCE umum naik 3,7% di bulan Juni, sesuai ekspektasi. Sementara inflasi inti PCE naik 3,3% tahun ke tahun, juga sesuai perkiraan dan melambat dari bulan sebelumnya.
Jamie Cox, Managing Partner di Harris Financial Group, mengatakan data ini mengonfirmasi bahwa jika bukan karena guncangan energi, inflasi seharusnya sudah menurun. "Data ini mengonfirmasi apa yang sudah kita ketahui - kalau bukan karena guncangan energi, inflasi akan turun lebih rendah," ujarnya.
Laporan ini menjadi bahan penting bagi The Fed dalam menentukan langkah kebijakan moneter ke depan. Investor pun akan mencermati setiap pergerakan data untuk mengantisipasi arah suku bunga dan dampaknya terhadap pasar keuangan.