Imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) bertenor panjang tetap bertahan di level tinggi pada perdagangan Kamis (30/7), sehari setelah Federal Reserve memutuskan untuk menahan suku bunga acuan. Investor terus mencerna sinyal dari bank sentral, sementara para analis Wall Street mulai menyuarakan kekhawatiran tentang kredibilitas The Fed dalam mengatasi inflasi.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Imbal hasil Treasury tenor 10 tahun (^TNX) naik ke level 4,66%, sementara imbal hasil Treasury tenor 30 tahun (^TYX) melonjak ke 5,21%, yang merupakan level tertinggi sejak tahun 2007. Kenaikan ini menunjukkan bahwa investor meminta premi imbal hasil yang lebih tinggi untuk mengunci investasi jangka panjang di tengah ketidakpastian inflasi.
Pergerakan imbal hasil ini menjadi sinyal bahwa pelaku pasar khawatir The Fed tertinggal dalam menangani inflasi. Meskipun imbal hasil obligasi bertenor 2 tahun sempat turun 4 basis poin saat konferensi pers Ketua The Fed Kevin Warsh pada Rabu (29/7), imbal hasil bertenor 10 dan 30 tahun justru bergerak naik, memperlebar kekhawatiran jangka panjang.
Para ekonom di Bank of America Global Research menyebut pergerakan pasca-rapat The Fed konsisten dengan "guncangan kredibilitas inflasi" bank sentral. "Ironisnya, kami berpikir bahwa kebutuhan untuk memulihkan kredibilitas justru meningkatkan probabilitas The Fed akan menaikkan suku bunga pada September, dengan asumsi kondisi lain tetap sama," tulis tim ekonom yang dipimpin Aditya Bhave.
Bank of America memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada setiap dari tiga pertemuan yang tersisa di tahun ini. Sementara itu, para petaruh di platform Polymarket meningkatkan peluang kenaikan suku bunga di September menjadi 56% setelah konferensi pers Warsh.
Ketua The Fed Kevin Warsh mengindikasikan bahwa ia tidak akan memberikan panduan ke depan (forward guidance) agar pasar dapat bereaksi secara alami. Meskipun Warsh menegaskan tekad The Fed untuk mengembalikan inflasi ke target 2%, komentarnya dalam konferensi pers dinilai bergeser ke arah yang lebih dovish atau cenderung melonggarkan kebijakan.
Para ekonom Bank of America mencatat bahwa "sedikit informasi yang dia bagikan justru cenderung dovish". Warsh menyebutkan bahwa meskipun The Fed akan terus menargetkan inflasi PCE untuk saat ini, hal itu bisa berubah setelah gugus tugas yang dibentuknya untuk meninjau data menyampaikan rekomendasi. Langkah ini dinilai membuka peluang bagi The Fed untuk memilih indikator yang sesuai guna membenarkan sikap dovish.
Warsh juga mengisyaratkan bahwa kenaikan suku bunga bukan satu-satunya alat untuk menurunkan inflasi. Ia berulang kali menyiratkan bahwa pasar sedang mengerjakan tugas pelonggaran untuk The Fed, mengingat imbal hasil obligasi jangka panjang yang terus naik dalam beberapa pekan terakhir telah meningkatkan biaya pinjaman. Namun, para analis Bank of America memperingatkan bahwa The Fed tidak bisa hanya mengandalkan pasar untuk melakukan pekerjaan itu selamanya hanya dengan berbicara tegas.
"Pada akhirnya, mereka harus bertindak sesuai ucapan, atau berisiko kehilangan kredibilitas," demikian analisis tim Bank of America. Pasar obligasi AS kini menantikan langkah konkret The Fed di tengah tekanan inflasi yang masih membayangi dan sinyal kebijakan yang masih ambigu.