Imbal hasil (yield) obligasi Treasury Amerika Serikat bergerak dramatis setelah Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk kembali menahan suku bunga acuan. Keputusan ini mendorong para pelaku pasar obligasi mengurangi taruhan mereka terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan September mendatang.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Pada perdagangan Rabu (29/7), imbal hasil surat utang pemerintah AS bertenor dua tahun yang paling sensitif terhadap perubahan kebijakan The Fed, turun dua basis poin menjadi 4,26 persen. Sementara itu, imbal hasil tenor 30 tahun justru naik lima basis poin ke level 5,14 persen. Pergerakan ini memberikan kejelasan di tengah pasar yang sebelumnya terpecah, di mana para trader sempat memperkirakan peluang kenaikan suku bunga mencapai 40 persen lebih awal pada hari yang sama.
Berdasarkan pergerakan suku bunga swap, pasar kini merefleksikan probabilitas sekitar 70 persen bahwa para pejabat yang dipimpin Ketua Kevin Warsh akan menaikkan biaya pinjaman pada pertemuan kebijakan berikutnya di bulan September. Bahkan, para pelaku pasar memperkirakan kenaikan harga sudah sepenuhnya tercermin pada Oktober mendatang.
Dalam pernyataan kebijakan kedua yang dirilis di bawah kepemimpinan Warsh, para pejabat The Fed masih enggan memberikan banyak panduan mengenai rencana langkah kebijakan selanjutnya. Mereka kembali menegaskan komitmen bank sentral terhadap stabilitas harga, dengan tetap mempertahankan sikap kehati-hatian di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Para pembuat kebijakan memutuskan dengan suara 9-3 untuk mempertahankan kisaran suku bunga dana federal acuan di level 3,5 persen hingga 3,75 persen. Tiga pejabat yang menyatakan perbedaan pendapat atau dissenting adalah Presiden Dallas Fed Lorie Logan, Presiden Cleveland Beth Hammack, dan Presiden Minneapolis Neel Kashkari. Ketiganya memilih untuk menaikkan suku bunga sebesar seperempat persentase poin.
Ketua The Fed Kevin Warsh dijadwalkan akan memberikan keterangan pers pada pukul 14.30 waktu Washington, yang akan ditunggu oleh para pelaku pasar untuk mencari petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter ke depan. Pernyataannya dinilai krusial mengingat perpecahan di dalam komite.
Jack McIntyre, manajer portofolio di Brandywine Global Investment Management, mengatakan bahwa pergerakan awal pasar lebih merupakan kelegaan karena The Fed tidak menaikkan suku bunga pada hari itu. "Perbedaan pendapat ini menunjukkan kecenderungan (bias) dari FOMC. Dan kecuali data inflasi dan ketenagakerjaan melunak secara signifikan antara sekarang dan September, maka pertemuan tersebut tetap menjadi peluang untuk kenaikan suku bunga," ujarnya.
Keputusan The Fed kali ini menjadi sorotan karena diambil di tengah eskalasi ketegangan geopolitik dan gejolak pasar global. Meskipun inflasi menunjukkan tanda-tanda pelambatan, sejumlah pejabat masih khawatir tekanan harga belum sepenuhnya mereda, sehingga membuka ruang bagi pengetatan lebih lanjut.
Para analis menilai bahwa perbedaan pendapat di antara pejabat The Fed mencerminkan ketidakpastian yang masih tinggi di dalam komite. Dengan tiga suara dissent yang mendukung kenaikan, sinyal hawkish tetap kuat dan memberikan tekanan pada imbal hasil obligasi jangka panjang yang justru melonjak.
Pasar kini akan fokus pada data inflasi dan ketenagakerjaan AS yang akan dirilis menjelang pertemuan September. Angka-angka tersebut akan menjadi penentu utama apakah The Fed akhirnya akan kembali menaikkan suku bunga atau mempertahankan status quo untuk jangka waktu yang lebih lama.