Alat rekrutmen berbasis AI dinilai menghambat kemajuan karier perempuan paruh baya yang ingin kembali aktif di dunia profesional akibat bias sistemik. Pengamatan redaksi Kabayan News menunjukkan bahwa fenomena ini memaksa banyak tenaga kerja berpengalaman menyembunyikan usia dan riwayat pekerjaan mereka pada Curriculum Vitae demi lolos seleksi awal.
Stacey Duguid, seorang profesional berusia 52 tahun asal London, mengaku harus menghapus jejak usia dan pengalaman lamanya pada CV setelah berbulan-bulan menghadapi penolakan otomatis. Dari analisis awak media Kabayan News, ribuan perempuan paruh baya mengalami nasib serupa ketika melamar pekerjaan melalui platform digital yang menggunakan teknologi penyaringan otomatis.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBerdasarkan laporan organisasi City of London Women Pivoting to Digital Taskforce, algoritma AI kerap gagal mengenali keterampilan berharga yang dimiliki oleh perempuan dengan jeda karier. Ketua gugus tugas tersebut, Caroline Haines, memperingatkan bahwa diskriminasi terselubung ini berpotensi merugikan perekonomian secara luas jika tenaga kerja potensial tersingkir dari pasar.
Pakar hukum AI, Laura Holden, menyatakan bahwa banyak perusahaan tidak sepenuhnya memahami cara kerja sistem otomatis yang kerap memprioritaskan kandidat berdasarkan parameter kaku. Ia mendesak adanya regulasi ketat serta pengujian mandatori untuk memastikan teknologi tersebut tidak merugikan kelompok rentan seperti pencari kerja senior.
Sementara itu, perusahaan pengembang perangkat lunak sumber daya manusia seperti Workday menegaskan bahwa sistem mereka telah diuji secara ketat untuk menghindari bias diskriminatif. Pemerintah setempat kini tengah meninjau ulang regulasi pemanfaatan teknologi di sektor ketenagakerjaan agar proses rekrutmen tetap adil bagi seluruh kalangan.