Amerika Serikat kembali dihadapkan pada pilihan sulit di tengah memanasnya konflik dengan Iran. Setelah serangkaian serangan masif dilancarkan, Washington harus memilih apakah akan terus memperluas eskalasi militer atau fokus memulihkan persediaan amunisi yang kian menipis dan meredam gejolak pasar energi global.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Perang yang telah memasuki bulan kelima ini memperlihatkan Presiden Donald Trump kesulitan memaksa Iran untuk menyerah, terutama di wilayah strategis Selat Hormuz. Upaya membuka kembali jalur diplomasi juga menemui jalan buntu seiring meluasnya dampak konflik ke perairan Mesir dan Laut Merah.
Sejumlah pengamat menilai serangan masif tidak akan otomatis meredam kemampuan Iran mengganggu pelayaran komersial. "Saya meragukan serangan sebesar apapun dapat meruntuhkan kemampuan Iran untuk terus melakukan serangan balasan atau mengancam pelayaran di Selat Hormuz," ujar Jim Lamson selaku mantan analis CIA.
Selain faktor militer, beban ekonomi dan penipisan cadangan senjata turut menjadi pertimbangan serius bagi Washington. Menipisnya stok amunisi pertahanan udara dikhawatirkan dapat membuat Amerika Serikat rentan menghadapi potensi ancaman global lainnya, sehingga membuat perhitungan strategi Gedung Putih semakin kompleks.