Perang antara Amerika Serikat dan Iran yang telah berjalan lebih dari lima bulan menuai sorotan tajam dari berbagai kalangan pengamat internasional. Berdasarkan pengamatan redaksi Kabayan News, strategi yang diterapkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kerap berujung pada siklus gertakan kosong tanpa arah kemenangan militer yang jelas.
Kritikus menilai bahwa rangkaian ancaman bombardir besar-besaran sering kali diakhiri dengan pembatalan mendadak atas dalih negosiasi ulang. Pola berulang tersebut memicu cibiran publik luas karena dianggap menyerupai siklus kebingungan politik tanpa penyelesaian konkret.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMenurut analisis awak media Kabayan News, ketidakpahaman mendalam terhadap karakter rezim penguasa Tehran menjadi akar permasalahan utama bagi kepemimpinan Gedung Putih saat ini. Pakar politik dari Missouri Science and Technology University, Mehrzad Boroujerdi menjelaskan bahwa para pemimpin Iran memiliki latar belakang ideologis revolusioner yang membuat mereka tidak akan pernah menyerah begitu saja kepada tekanan asing.
"Salah satu kesalahan terbesar dilakukan Trump melalui penggunaan bahasa ancaman semacam itu," ujar Boroujerdi menyoroti pendekatan militer yang dinilai keliru. Ia menambahkan bahwa kelompok penguasa Iran saat ini lahir dari revolusi massal sehingga memiliki tingkat militansi sangat tinggi dalam mempertahankan sistem pemerintahan.
Data akademis yang dihimpun selama puluhan tahun menunjukkan bahwa para petinggi militer serta dewan keamanan Iran merupakan figur yang sangat berhutang budi pada revolusi tahun 1979. Hal tersebut membentuk psikologi ketahanan luar biasa dalam menghadapi berbagai sanksi ekonomi maupun tekanan militer internasional.
Di sisi lain, pengamat Timur Tengah dari International Crisis Group, Ali Vaez menilai bahwa frustrasi mendalam melanda Gedung Putih akibat keterbatasan opsi militer yang tersedia di lapangan. Minimnya persiapan strategis yang matang sejak awal konflik membuktikan bahwa pemerintah Amerika Serikat gagal mengenali karakter musuh secara utuh.