Harga emas dunia melonjak tajam di pasar spot internasional dan ditutup di sekitar level USD 4.342 per ons setelah mencatat lonjakan mingguan lebih dari 7 persen pada Agustus 2026. Berdasarkan laporan terbaru, kenaikan signifikan tersebut berhasil membawa harga logam mulia keluar dari zona konsolidasi di kisaran USD 4.000 yang mendominasi perdagangan sepanjang bulan sebelumnya.
Menurut analisis dari lembaga keuangan global UBS, momentum penguatan dolar Amerika Serikat mulai kehilangan tenaga di tengah ekspektasi kebijakan pengetatan Federal Reserve yang mereda. Pengamatan Kabayan News menunjukkan bahwa pelemahan dolar dan penurunan imbal hasil riil di Amerika Serikat memberikan angin segar bagi pasar komoditas, khususnya aset safe haven.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeData ekonomi terbaru di Amerika Serikat mengindikasikan tekanan inflasi melandai serta pasar tenaga kerja mendingin tanpa menunjukkan tanda-tanda dorongan kenaikan suku bunga lanjutan dari bank sentral. Sebagaimana dilaporkan dalam prospek mingguan UBS, dinamika tersebut secara langsung mengurangi biaya peluang memegang aset batangan.
Perubahan pendekatan bank sentral terhadap indikator inflasi turut memperkuat proyeksi positif bagi pasar logam mulia dalam jangka panjang. Mengutip laporan UBS, preferensi terhadap pengukur inflasi alternatif memberikan gambaran lebih jinak sehingga argumen pengetatan moneter lanjutan menjadi semakin lemah.
Dari sisi teknikal, posisi harga emas kini kembali berada di atas rata-rata pergerakan 20 hari dan 50 hari meskipun masih berada di bawah garis tren jangka panjang. Dengan kombinasi data makroekonomi melemah dan konsolidasi dolar AS, UBS menargetkan harga emas berpotensi mencapai level USD 5.200 pada Juni 2027 mendatang.