Harga minyak dunia Brent turun ke kisaran USD 78 per barel pada 6 Agustus dari posisi USD 73 pada akhir Juli lalu seiring membaiknya diplomasi di kawasan Selat Hormuz. Berdasarkan pengamatan Kabayan News, penurunan tersebut mencerminkan respons pasar keuangan terhadap meredanya premi risiko geopolitik.
Menurut laporan Natixis, dinamika diplomasi menunjukkan perubahan signifikan dalam sepekan terakhir setelah Presiden Donald Trump menunda serangan baru menyusul permintaan mitra regional. Di sisi lain, Iran menyatakan kesepakatan dengan Oman terkait rute aman melalui Selat Hormuz meski sejumlah isu teknis belum sepenuhnya terselesaikan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe"Kontrol lalu lintas, biaya transit, dan blokade Amerika Serikat masih belum terselesaikan," demikian penjelasan analis Natixis dalam laporan pasar energi.
Ketidakstabilan regional juga masih membayangi pasar minyak global setelah pasukan Houthi mengeklaim serangan terhadap dua kapal tanker Saudi. Selain itu, eskalasi militer di wilayah selatan turut menjadi faktor risiko yang berpotensi menggagalkan proses perdamaian.
Dari analisis Kabayan News, pasar keuangan cenderung merespons cepat kemajuan diplomasi meskipun arus pengiriman fisik masih jauh dari normal. Data pelacakan menunjukkan lalu lintas kapal di Selat Hormuz serta penerbangan dari Dubai dan Doha masih mengalami gangguan.
UniCredit dan RBC memperkirakan harga minyak akan beradaptasi seiring kebijakan OPEC+ serta alternatif rute ekspor Teluk yang mulai dioptimalkan. Kendati demikian, pasar tetap mewaspadai potensi lonjakan harga apabila negosiasi mengalami jalan buntu.