Harga minyak dunia melonjak naik setelah Amerika Serikat mengancam penerapan blokade laut tak terbatas terhadap Iran, memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak mentah dari kawasan Timur Tengah.
Berdasarkan data pasar pada Jumat pukul 0810 GMT, kontrak berjangka Brent naik USD 1,43 atau 1,64 persen menjadi USD 88,50 per barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate Amerika Serikat meningkat USD 1,56 atau 1,92 persen ke level USD 82,81 per barel.
Peningkatan harga minyak merupakan konsekuensi alami dari langkah terbaru Washington yang mengindikasikan eskalasi konflik panjang tanpa harapan penyelesaian damai dalam waktu dekat. Demikian penilaian Bjarne Schieldrop selaku analis dari SEB Research.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSebelumnya, Washington memperingatkan kemungkinan mempertahankan blokade laut terhadap Iran tanpa batas waktu serta meningkatkan tekanan ekonomi akibat macetnya perundingan gencatan senjata. Menteri Keuangan Scott Bessent menyatakan "pengumuman langkah pengisolasian ekonomi belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah suatu negara akan disampaikan pekan depan".
Dari analisis Kabayan News, ancaman tersebut memperburuk situasi setelah Iran membatasi arus pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang menopang seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Situasi kian memanas menyusul laporan kantor berita resmi Uni Emirat Arab WAM mengenai dua kapal milik Abu Dhabi National Oil Company yang diserang ketika melintasi selat.
Di sisi lain, proyeksi OPEC dan Badan Energi Internasional menunjukkan pertumbuhan permintaan melemah, sementara persediaan minyak mentah Amerika Serikat mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam lebih dari tiga setengah tahun. Menurut Norbert Rucker selaku kepala riset ekonomi Julius Baer, "kondisi penyimpanan jauh lebih baik dari kekhawatiran pasar, yang seharusnya mampu menekan harga minyak turun".