Harga minyak dunia mengalami penurunan pada perdagangan terbarunya setelah sempat mencatatkan tren positif dalam beberapa sesi sebelumnya. Berdasarkan laporan pasar energi internasional, koreksi ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap proyeksi permintaan minyak global melemah tahun ini serta belum adanya kejelasan terkait pembukaan kembali jalur penting Selat Hormuz.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent tercatat melemah 42 sen atau sekitar 0,47 persen ke level 88,56 dolar AS per barel. Penurunan serupa dialami oleh minyak mentah West Texas Intermediate yang terkoreksi 55 sen atau 0,66 persen menjadi 82,72 dolar AS per barel setelah sempat menguat dalam lima sesi perdagangan sebelumnya.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBerdasarkan analisis Kabayan News, tekanan terhadap bursa energi kian bertambah setelah Energy Information Administration melaporkan lonjakan stok komersial minyak mentah Amerika Serikat sebesar 17,4 juta barel pada pekan lalu. Angka tersebut jauh melampaui ekspektasi analis sebelumnya dan mencatatkan kenaikan mingguan terbesar sejak Januari 2023 akibat penurunan ekspor.
Selain lonjakan stok domestik Amerika Serikat, organisasi negara pengekspor minyak OPEC menurunkan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia untuk tahun 2026 menjadi 580 ribu barel per hari. Di sisi lain, International Energy Agency memperkirakan kontraksi konsumsi mencapai 1,6 juta barel per hari akibat tingginya harga pasar serta pembatasan pasokan.
Meskipun sentimen permintaan melemah, kebuntuan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran terkait konflik di Teluk masih memberikan batas bawah bagi pergerakan harga. Sebagaimana dilaporkan para pengamat pasar, situasi keamanan navigasi maritim memburuk dan membuat kapal-kapal mematikan sinyal pelacakan untuk menghindari risiko.
Pengamatan Kabayan News menunjukkan bahwa pasar energi masih berada dalam fase penuh ketidakpastian antara bayang-bayang surplus pasokan domestik Amerika Serikat dan risiko geopolitik global yang belum menemukan titik terang.