Kabayan News Kabayan News
/home / internasional / Iran Tegaskan Selat Hormuz Miliknya,...
INTERNASIONAL

Iran Tegaskan Selat Hormuz Miliknya, Blokade Ketat Tanpa Ampun

By Dewi Lestari 2 min read 15 Agustus 2026
Ilustrasi Selat Hormuz dan ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat

Ilustrasi Selat Hormuz dan ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan bahwa Selat Hormuz mutlak milik Iran dan tidak bisa dikuasai oleh ancaman digital maupun militer. Penegasan itu disampaikan untuk merespons pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berencana mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah teritorial AS.

Melalui akun media sosial miliknya, Kazem Gharibabadi menyatakan bahwa Selat Hormuz tidak bisa direbut hanya lewat cuitan, kapal induk, perintah, maupun pidato kampanye. Pihaknya menambahkan bahwa Iran sama sekali tidak takut terhadap ancaman ataupun unjuk kekuatan militer dari pihak asing.

Lebih lanjut, Kazem Gharibabadi menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap berada di bawah kendali penuh Iran. Jalur vital tersebut hanya akan dibuka atau ditutup berdasarkan komando Iran sampai pihak Amerika Serikat mengakui kekalahan serta menghentikan intervensi.

Sebelumnya, Donald Trump mengklaim Angkatan Laut AS menegakkan blokade penuh di Selat Hormuz dan berencana menyatakan wilayah tersebut sebagai teritorial AS setelah mengalahkan Iran. Pernyataan itu memicu ketegangan lanjutan di tengah konflik yang masih membara antara kedua negara.

Berdasarkan pengamatan media, situasi lalu lintas maritim di Selat Hormuz mengalami penurunan drastis akibat konflik yang terjadi. Perusahaan pelacakan kapal mencatat hanya segelintir kapal yang berani melintas di jalur strategis tersebut di tengah blokade ketat.

Topics
iran selat hormuz donald trump kazem gharibabadi amerika serikat blokade militer geopolitik
Koresponden Internasional & Analis Global

Dewi membawa perspektif global untuk pembaca Kabayan News. Dengan pengalaman tinggal di Amerika Serikat, Inggris, dan Singapura, ia memahami dinamika geopolitik dan ekonomi dunia. Kini berbasis di Jakarta, ia meliput bagaimana isu global berdampak pada Indonesia, dengan fokus pada hubungan internasional, perdagangan global, dan isu-isu kemanusiaan.