Pemerintah Amerika Serikat menegaskan bahwa prioritas utama dalam konflik bersenjata melawan Iran bukan lagi menghentikan program nuklir, melainkan menurunkan harga bahan bakar minyak bagi konsumen domestik. Pengamat dari berbagai lembaga internasional mencatat bahwa pergeseran fokus ini menunjukkan tekanan politik dalam negeri yang semakin meningkat akibat lonjakan harga energi di pasaran global.
Wakil Presiden JD Vance menyampaikan dalam wawancara bahwa menjaga harga minyak dan gas tetap terjangkau bagi warga Amerika Serikat merupakan target nomor satu saat ini. "Itu adalah tujuan nomor satu, yakni menjaga agar minyak dan gas tetap murah bagi warga Amerika di seluruh negeri," ujar Vance sebagaimana dilaporkan oleh media massa.
Sementara itu, Menteri Keuangan Scott Bessent menyatakan bahwa Washington bersiap menjatuhkan sanksi ekonomi tambahan guna menekan Teheran lebih jauh. Dari analisis pasar keuangan, langkah tersebut diambil menyusul kendali ketat Iran atas jalur pelayaran vital di kawasan Teluk yang memicu gangguan pasokan global.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKonflik yang bermula sejak akhir Februari tersebut memicu penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebagai bentuk pembalasan atas blokade militer. Menurut laporan media asing, situasi ini memberikan daya tawar kuat bagi Teheran di tengah penurunan tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Donald Trump menjelang pemilihan paruh waktu.
Di sisi lain, administrasi kepresidenan menghadapi dilema besar karena cadangan persenjataan militer berteknologi tinggi dilaporkan semakin menipis setelah berbulan-bulan melancarkan serangan udara. Pemerintah kini mengandalkan strategi isolasi ekonomi ketat sembari menunggu dampak inflasi internal melumpuhkan kemampuan pertahanan Teheran.