Dua peristiwa penembakan fatal yang melibatkan petugas Imigrasi dan Bea Cukai AS atau ICE dalam sepekan terakhir memicu gelombang protes di sejumlah kota. Seorang imigran asal Kolombia tewas di Biddeford, Maine, pada Senin, menyusul tewasnya imigran Meksiko di Houston beberapa hari sebelumnya. Kedua korban dikonfirmasi bukan target operasi penegakan hukum yang dilakukan ICE.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Insiden di Maine menewaskan Joan Sebastian Durán Guerrero, pria berusia 25 tahun yang bekerja sebagai pengantar makanan. Menurut Maine Immigrants" Rights Coalition, Durán Guerrero memiliki izin bekerja di AS dan memiliki nomor Jaminan Sosial. Pihak berwenang menyebutkan ia bukan target dari operasi penegakan hukum yang berlangsung saat itu.
Kepala Kepolisian Biddeford, Martin Gagnon, dalam konferensi pers mengungkapkan bahwa petugas ICE melepaskan tembakan ketika Durán Guerrero mencoba melarikan diri dengan kendaraan. Departemen Keamanan Dalam Negeri AS baru mengeluarkan pernyataan resmi hampir 12 jam setelah kejadian, menyebut petugas bertindak karena khawatir akan keselamatan publik.
Sebelumnya pada pekan yang sama, Lorenzo Salgado Araujo, pria asal Meksiko berusia 52 tahun, juga tewas tertembak dalam operasi ICE di Houston. Seperti halnya Durán Guerrero, Salgado Araujo juga dikonfirmasi bukan target dari operasi tersebut. Kedua kasus ini menjadi sorotan tajam atas taktik agresif yang diterapkan dalam penegakan hukum imigrasi di era Trump.
Pasca insiden di Maine, ICE sempat mengarahkan para agennya untuk menghentikan sebagian besar penghentian lalu lintas. Namun kebijakan itu dibatalkan oleh Presiden Donald Trump pada Rabu, yang memerintahkan agar moratorium tersebut dicabut. Langkah ini dinilai kontroversial mengingat protes publik yang terus menguat.
Kematian kedua imigran ini memicu protes di sejumlah kota dan seruan dari kelompok hak asasi manusia untuk menghentikan apa yang mereka sebut sebagai kebijakan imigrasi yang brutal. Para pengunjuk rasa menuntut transparansi dan akuntabilitas atas tindakan petugas di lapangan, serta mengecam penggunaan kekuatan berlebihan dalam operasi penangkapan imigran.
Para pengacara imigrasi dan kelompok sipil juga menyoroti fakta bahwa kedua korban memiliki status hukum yang jelas. Durán Guerrero tercatat memiliki izin kerja resmi, sementara Salgado Araujo juga tidak tercatat sebagai pelaku kejahatan. Hal ini semakin memperkuat tuntutan agar pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap prosedur operasional ICE.
Kasus ini menambah panjang daftar kontroversi kebijakan imigrasi di bawah pemerintahan Trump, yang sejak awal dikenal dengan pendekatan keras terhadap imigran tanpa dokumen. Namun kali ini, yang menjadi korban adalah mereka yang memiliki dokumen lengkap dan bukan target operasi, membuat publik semakin mempertanyakan efektivitas dan etika penegakan hukum di lapangan.
Gelombang kecaman datang dari berbagai kalangan, termasuk anggota parlemen dari Partai Demokrat yang mendesak diadakannya penyelidikan independen. Beberapa legislator menyebut insiden ini sebagai bukti kegagalan sistem pengawasan internal ICE dan menuntut reformasi mendasar dalam cara agen federal menangani operasi di wilayah sipil.
Hingga berita ini diturunkan, baik ICE maupun Departemen Keamanan Dalam Negeri belum memberikan rincian lebih lanjut mengenai mekanisme penyelidikan internal atas kedua kasus penembakan tersebut. Pihak keluarga korban melalui perwakilan hukum menyatakan akan menempuh jalur litigasi untuk menuntut keadilan bagi kedua imigran yang gugur dalam insiden tragis ini.