Kepemimpinan Presiden FIFA Gianni Infantino tengah berada di bawah sorotan tajam menyusul rentetan kontroversi yang mengguncang otoritas sepak bola tertinggi di dunia tersebut. Sejumlah pihak bahkan mulai bernostalgia secara sarkastis pada era Sepp Blatter, ketika praktik korupsi merajalela sebelum kejatuhannya pada 2015 akibat investigasi penegak hukum Amerika Serikat.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Alih-alih membawa pembersihan total, era kepemimpinan Infantino justru dinilai semakin larut dalam pengkultusan kekuasaan politik. Salah satu contoh paling mencolok adalah keputusan FIFA memberikan penghargaan perdamaian kepada Donald Trump dalam acara undian Piala Dunia di Washington, di mana Infantino secara terbuka menyatakan dukungannya kepada sang politikus.
Langkah tersebut langsung memicu kecaman karena mencederai prinsip netralitas politik yang seharusnya dipegang teguh oleh FIFA sebagai wadah dari 211 asosiasi nasional. Hubungan erat antara Infantino dan lingkaran kekuasaan Washington kini bahkan menarik perhatian para politisi di DPR Amerika Serikat yang meminta dokumen resmi terkait interaksi dan kerja sama tersebut.
Tekanan terhadap integritas badan sepak bola dunia itu semakin menguat setelah insiden penangguhan sanksi kartu merah pemain AS Folarin Balogun. Keputusan Komite Disiplin mengubah hukuman setelah adanya panggilan telepon pribadi dari Gedung Putih memicu tanda tanya besar mengenai independensi badan yudisial FIFA dari intervensi politik.
Kontroversi tidak berhenti pada urusan sanksi pertandingan semata, melainkan juga merambah pada perlakuan tidak adil terhadap tokoh sepak bola dari negara berkembang. Omar Abdulkadir Artan, wasit terbaik asal Somalia, harus menghadapi kenyataan pahit ditolak masuk ke Amerika Serikat saat hendak bertugas di Piala Dunia, sementara FIFA memilih bungkam di balik alasan birokrasi keimigrasian.
Standar ganda FIFA turut terlihat jelas dalam penanganan sanksi terhadap negara-negara yang terlibat konflik geopolitik. Ketika Rusia langsung dijatuhi sanksi tegas berupa pencoretan dari kompetisi internasional hanya dalam hitungan hari, kasus pelanggaran yang melibatkan Israel justru berlarut-larut melalui berbagai prosedur birokrasi dan investigasi yang panjang.
Kendati menuai banyak kritik dari berbagai kalangan, posisi kekuasaan Infantino di dalam tubuh organisasi tetap terlihat sangat kokoh berkat dukungan penuh dari berbagai konfederasi regional. Sejumlah pengamat menilai struktur distribusi dana pembangunan dari FIFA menciptakan sistem patronase yang efektif untuk menjaga loyalitas suara dari asosiasi-asosiasi anggota.
Di tengah berbagai polemik yang mendera, masa depan tata kelola sepak bola global kini berada di persimpangan jalan yang menentukan. Tekanan dari parlemen Amerika Serikat serta kritik keras dari federasi di Eropa menuntut adanya transparansi nyata agar otoritas olahraga ini tidak sekadar menjadi alat negosiasi bagi para elite politik dan para pemegang kekuasaan.