Kekhawatiran mendalam disuarakan Pangeran Mahkota Saudi Mohammed bin Salman kepada Presiden AS Donald Trump. Dalam panggilan telepon pada Sabtu (1/8), putra mahkota itu mengungkapkan keprihatinannya atas laporan yang beredar mengenai rencana serangan baru berskala besar oleh AS terhadap Iran. Hal ini diungkapkan oleh dua pejabat AS dan satu sumber lain yang mengetahui isi pembicaraan, demikian dilaporkan oleh situs Axios.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Panggilan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan, di mana AS dilaporkan tengah mematangkan persiapan serangan besar-besaran ke Iran. Hanya sehari sebelumnya, Trump sendiri sempat mengeluarkan ancaman untuk menghantam Iran dengan sangat keras, yang kemudian diikuti dengan peringatan keamanan dari kedutaan-kedutaan AS di Timur Tengah tentang potensi eskalasi tak terduga.
Dalam pembicaraan dengan Trump, sang pangeran secara eksplisit menyuarakan kekhawatiran Kerajaan Saudi dan meminta klarifikasi mengenai rencana aksi yang akan diambil AS. Seorang pejabat AS menyatakan kepada Axios bahwa pihak Saudi menyatakan keprihatinan dan meminta kejelasan. Sumber lain yang dekat dengan percakapan menambahkan bahwa Mohammed bin Salman mendesak Trump untuk meredakan situasi dan tidak meluncurkan serangan.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi telah melakukan komunikasi intensif dengan mitranya dari Turki, Pakistan, dan Saudi. Araghchi menegaskan bahwa setiap bentuk agresi dari AS dan Israel akan mendapat respons yang tegas dan proporsional dari Iran. Baik Gedung Putih maupun Kedutaan Besar Saudi di Washington dilaporkan menolak memberikan komentar terkait isi pembicaraan tersebut.
Ketegangan antara AS dan Iran semakin memanas dalam beberapa pekan terakhir. Rencana serangan baru yang dikabarkan akan menyasar fasilitas-fasilitas strategis Iran dikhawatirkan akan memicu konflik terbuka di kawasan. Langkah Saudi yang secara terang-terangan meminta de-eskalasi menunjukkan kekhawatiran serius negara-negara Teluk akan dampak destabilisasi yang mungkin timbul dari konflik bersenjata antara Washington dan Teheran.