Kabayan News Kabayan News
/home / berita / Profil Giovanni Trapattoni, Legenda...
BERITA

Profil Giovanni Trapattoni, Legenda yang Kalahkan Ajax di Final Piala Eropa

By Redaksi Kabayan News • 6 min read • 2 Agustus 2026
Foto Giovanni Trapattoni sebagai manajer Juventus dan timnas Italia

Foto Giovanni Trapattoni sebagai manajer Juventus dan timnas Italia

Giovanni Trapattoni atau akrab disapa Trap adalah salah satu nama terbesar dalam sejarah sepakbola Italia. Pria kelahiran Cusano Milanino, 17 Maret 1939 ini dikenal sebagai manajer paling sukses di sepakbola Italia dan salah satu pelatih terbaik sepanjang masa. Kariernya membentang dari lapangan hijau sebagai pemain AC Milan hingga bangku cadangan yang membawanya menjuarai liga di empat negara berbeda: Italia, Jerman, Portugal, dan Austria.

Sebagai pemain, Trapattoni menghabiskan hampir seluruh kariernya di AC Milan dengan posisi sebagai gelandang bertahan atau bek tengah. Ia meraih dua gelar Serie A pada musim 1961-1962 dan 1967-1968, serta dua Piala Eropa pada 1962-1963 dan 1968-1969. Puncaknya adalah final Piala Eropa 1963 melawan Benfica di mana ia berhasil mematikan pergerakan Eusebio, dan final 1969 melawan Ajax di mana ia sukses meredam Johan Cruyff.

Trapattoni juga memperkuat timnas Italia dengan 17 caps dan satu gol. Ia menjadi bagian skuat Italia di Piala Dunia 1962 di Chile namun cedera membuatnya tidak bisa tampil. Momen paling dikenang adalah saat ia berhasil mengawal Pele dalam laga persahabatan Italia melawan Brasil pada 1963. Pelé sendiri kemudian mengaku bahwa ia sedang sakit perut saat itu, namun Trapattoni tetap dianggap berhasil menjalankan tugasnya dengan sangat baik.

Karier kepelatihan Trapattoni dimulai di AC Milan sebagai pelatih tim muda sebelum menjadi caretaker pada 1974. Namun, nama besarnya justru melejit bersama Juventus. Dalam 10 tahun menangani Juventus dari 1976 hingga 1986, ia menyapu bersih semua kompetisi Eropa yang ada: Piala Eropa, Piala UEFA, Piala Winners Eropa, Piala Super Eropa, dan Piala Interkontinental. Ia menjadi satu-satunya pelatih yang berhasil memenangi semua kompetisi resmi klub Eropa dan gelar dunia bersama satu klub yang sama.

Selama era keemasannya di Juventus, Trapattoni meraih enam gelar Serie A (1976-77, 1977-78, 1980-81, 1981-82, 1983-84, 1985-86), dua Coppa Italia, dan satu Piala Eropa pada 1984-85 setelah mengalahkan Liverpool di final. Ia hampir meraih trofi Eropa lagi pada 1982-83 namun harus puas jadi runner-up setelah kalah mengejutkan dari Hamburg di final Athena.

Setelah meninggalkan Juventus, Trapattoni melatih Inter Milan dan berhasil membawa Nerazzurri meraih gelar Serie A 1988-89 dengan rekor poin saat itu. Ia kemudian kembali ke Juventus untuk periode kedua dan memenangkan Piala UEFA 1992-93. Pada 1994, ia pergi ke Bayern Munich dan meskipun gagal meraih trofi, ia sukses membawa tim ke semifinal Liga Champions.

Trapattoni kemudian kembali ke Bayern Munich pada 1996 dan langsung meraih Bundesliga 1996-1997 serta Piala Jerman 1997-1998. Di sinilah salah satu momen paling ikonik terjadi saat ia meledak dalam konferensi pers dengan kalimat legendaris, "Ich habe fertig." Kalimat yang secara tata bahasa salah namun menjadi terkenal di seluruh Jerman itu lahir karena frustrasinya terhadap para pemain yang dianggapnya tidak tampil maksimal.

Karier internasional Trapattoni dimulai sebagai pelatih timnas Italia pada 2000. Ia membawa Italia ke Piala Dunia 2002 namun tersingkir secara kontroversial oleh Korea Selatan di babak 16 besar. Keputusan kontroversial wasit Byron Moreno yang mengeluarkan Francesco Totti dan menganulir gol Damiano Tommasi menjadi sorotan. Trapattoni bahkan secara halus menuduh adanya konspirasi FIFA untuk menguntungkan tuan rumah.

Nasib serupa menimpa Italia di Euro 2004. Meski tidak terkalahkan, Italia tersingkir di babak grup karena aturan selisih gol setelah Denmark dan Swedia bermain imbang 2-2. Trapattoni kemudian mengingat kembali kejadian itu pada 2012 dan menyatakan bahwa ia masih menunggu investigasi yang dijanjikan presiden UEFA saat itu, Lennart Johansson.

Setelah Italia, Trapattoni pindah ke Benfica dan langsung membawa klub Portugal tersebut meraih gelar liga pertamanya dalam 11 tahun pada 2004-2005. Ia kemudian pindah ke Red Bull Salzburg dan memenangkan Bundesliga Austria 2006-2007. Pada 2008, ia mengambil tantangan baru sebagai pelatih timnas Republik Irlandia dan berhasil membawa mereka lolos ke Euro 2012 setelah 24 tahun absen di turnamen besar.

Di luar lapangan, Trapattoni dikenal sebagai pribadi yang religius. Ia rutin menghadiri misa di gereja Regina Pacis di kampung halamannya dan menjadi kooperator Opus Dei. Ia juga pernah berziarah ke Lourdes dan Fatima. Ia menikah dengan Paola Miceli pada 1964 dan dikaruniai dua orang anak hingga Paola meninggal pada Desember 2022 setelah menderita sakit berkepanjangan.

Gaya kepelatihan Trapattoni sangat dipengaruhi oleh Nereo Rocco. Ia dikenal sebagai arsitek zona mista, evolusi dari catenaccio yang lebih modern dengan menggabungkan elemen man-marking dan zonal marking. Ia juga dikenal dengan moto, "Sepakbola kami adalah prosa, bukan puisi." Meski berlabel defensif, tim asuhannya mampu mencetak gol lewat serangan balik cepat dan permainan terorganisir. Hingga kini, Trapattoni tetap dihormati sebagai salah satu arsitek terbesar dalam sejarah sepakbola dunia.

Topics
giovanni trapattoni ac milan juventus bayern munich timnas italia zona mista catenaccio manajer legendaris serie a sepakbola italia
Tim Jurnalis & Analis Berita

Redaksi Kabayan News adalah tim jurnalis profesional, analis, dan kreator konten yang berdedikasi menyajikan berita nasional dan internasional terlengkap. Dari berita politik breaking news hingga analisis ekonomi mendalam, kami hadir untuk masyarakat Indonesia yang cerdas dan haus akan informasi berkualitas.