Gempuran konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran kian membara hingga memicu kerugian besar bagi pihak Washington. Berdasarkan pengamatan tim redaksi, gelombang serangan rudal balistik serta pesawat nirawak milik Iran sukses menerobos lini pertahanan dan menghantam sejumlah pangkalan militer strategis Amerika Serikat yang tersebar di wilayah negara-negara Arab.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Laporan dari The New York Times mengonfirmasi bahwa rentetan serangan balasan Iran telah merusak berbagai fasilitas penting militer Amerika Serikat di Kuwait, Qatar, Bahrain, Irak, hingga Yordania. Dari pantauan redaksi melalui analisis rekaman citra satelit, kerusakan parah terlihat jelas pada hanggar logistik, gudang amunisi, barak pasukan, hingga instalasi sistem radar canggih.
Salah satu titik kehancuran paling parah dilaporkan terjadi di Pangkalan Udara Ahmad Al Jaber, Kuwait, setelah sistem radar peringatan dini FPS-117 bernilai tinggi hancur lebur. Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar yang menjadi markas terbesar sekaligus pusat Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) juga mengalami kerusakan signifikan pada hanggar penyimpanan suku cadang pesawat tempur.
Selain kehancuran infrastruktur militer yang masif, pihak Pentagon mengonfirmasi kerugian personel dengan sekitar 100 tentara Amerika Serikat mengalami luka-luka. Berdasarkan data resmi militer, sebanyak 12 prajurit di antaranya menderita luka sangat serius sehingga harus segera dievakuasi medis dan diterbangkan ke Jerman untuk perawatan intensif.
Menanggapi bengkaknya kerugian finansial akibat kerusakan kapal, kargo, serta aset militer di kawasan Selat Hormuz dan sekitarnya, Presiden AS Donald Trump mengambil langkah tegas. Menurut Donald Trump, seluruh biaya perbaikan dan kerugian material akibat serangan Iran akan ditutupi secara penuh dengan memanfaatkan aset finansial milik Iran yang saat ini sedang dibekukan oleh pemerintah Amerika Serikat.