Ketegangan di Timur Tengah kembali mencapai titik didih setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah meluncurkan serangan udara masif yang menyasar sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait dan Yordania. Berdasarkan laporan dari media pemerintah Iran, aksi penyerangan ini secara khusus membidik berbagai fasilitas vital, termasuk sistem pertahanan udara canggih serta infrastruktur utama yang menyokong operasi militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Menurut pernyataan resmi dari penyiar pemerintah Iran, IRIB, serangan yang dilancarkan oleh pasukan IRGC di Pangkalan Udara Ali Al Salem yang terletak di Kuwait berhasil menghancurkan sebuah gudang penyimpanan besar berisi peralatan tempur. Tidak hanya itu, gempuran tersebut dilaporkan turut melumpuhkan sistem pertahanan pertahanan udara Patriot milik Amerika Serikat serta hanggar yang digunakan sebagai tempat penyimpanan drone canggih berjenis MQ-9.
Berdasarkan pengamatan tim redaksi, eskalasi serangan IRGC ini tidak berhenti di satu titik saja. Pasukan elite Iran tersebut juga menyatakan bahwa mereka telah membombardir area akomodasi personel militer Amerika Serikat dan dua hanggar helikopter di Kamp Udairi. Pihak Iran mengklaim serangan brutal ini menimbulkan korban jiwa di pihak militer Amerika Serikat serta memicu kerusakan parah pada armada helikopter dan drone, meskipun mereka belum merilis rincian konkret atau bukti dokumentasi terkait jumlah korban.
Dari pantauan redaksi melalui media lokal, IRGC juga menegaskan bahwa mereka sengaja membidik sebuah menara telekomunikasi militer. Tindakan tersebut diklaim sebagai aksi balasan langsung atas operasi Amerika Serikat sebelumnya yang sempat merusak infrastruktur komunikasi di dalam wilayah Iran. "Serangan ini hanya menyasar lokasi yang digunakan militer Amerika Serikat dan tidak dimaksudkan sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan maupun keutuhan wilayah Kuwait," sebut pernyataan resmi IRGC sebagaimana dikutip dari Anadolu Agency.
Sementara itu di wilayah Yordania, IRGC mengeklaim operasi militer mereka berhasil menghancurkan radar sistem pertahanan rudal THAAD, sistem Patriot, hingga radar C-RAM di sebuah pangkalan militer Amerika Serikat. Efek ledakan hebat dari serangan tersebut dilaporkan memicu kebakaran besar yang melahap tangki bahan bakar, gudang peralatan taktis helikopter, serta hanggar perawatan armada udara mereka.
Hubungan kedua negara sebenarnya sempat memperlihatkan sinyal positif saat Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi oleh Pakistan untuk menyudahi konflik. Namun, situasi di Selat Hormuz yang kembali memanas dalam beberapa waktu terakhir memicu kedua belah pihak untuk kembali saling melancarkan serangan terbuka.
Hingga saat ini, pihak redaksi masih memantau perkembangan situasi di lapangan. Belum ada konfirmasi independen maupun tanggapan resmi dari pihak Pentagon, pemerintah Amerika Serikat, serta otoritas wilayah Kuwait maupun Yordania terkait validitas klaim kerusakan masif yang dirilis oleh IRGC tersebut.