Permintaan minyak dunia diproyeksikan mengalami penurunan sebesar 1,6 juta barel per hari pada 2026 menurut laporan terbaru International Energy Agency atau IEA. Penurunan tersebut lebih tinggi 510 ribu barel per hari dibandingkan estimasi dalam laporan bulan sebelumnya karena penutupan Selat Hormuz terus berlangsung serta harga bahan bakar melambung tinggi.
Berdasarkan analisis Kabayan News, tekanan terhadap konsumsi energi global ini dipicu faktor geopolitik yang membatasi distribusi. Kontraksi tahunan tersebut diperkirakan melandai dari 4,9 juta barel per hari pada kuartal kedua 2026 menjadi 2,8 juta barel per hari pada kuartal ketiga, sebelum kembali mencatatkan pertumbuhan positif pada kuartal terakhir tahun ini.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeNeraca minyak global kini menghadapi defisit mencapai 1,8 juta barel per hari pada kuartal ketiga 2026, yang mana angka tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat dari perkiraan sebelumnya. Persediaan minyak global terpantau merosot tajam sebanyak 69 juta barel sepanjang Juli akibat penurunan drastis volume minyak di jalur pengiriman laut.
Akibat penurunan beruntun tersebut, stok minyak dunia yang diamati turun di bawah 7,9 miliar barel pada akhir Juli untuk pertama kalinya sejak April 2025. Akumulasi penarikan stok sejak akhir Februari hingga Juli telah mencapai 410 juta barel, sehingga mendesak pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut.
Pasokan minyak global juga diprediksi menyusut sebesar 4,3 juta barel per hari menjadi 102 juta barel per hari sepanjang 2026. Kendati demikian, IEA memperkirakan pasar energi akan pulih dengan lonjakan pasokan hingga 110,3 juta barel per hari pada tahun 2027 mendatang.