Pemerintahan Donald Trump melalui Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengumumkan kebijakan kontroversial untuk menyaring kadar testosteron seluruh pasukan militer Amerika Serikat serta menyediakan terapi penggantian hormon bagi yang memenuhi syarat. Berdasarkan pengamatan redaksi, kebijakan tersebut tampak ganjil mengingat fluktuasi testosteron terjadi secara alami dan militer jarang mengakomodasi profil hormonal prajurit secara spesifik. Namun, rencana ini menjadi masuk akal ketika menelusuri latar belakang spiritual Hegseth yang berguru pada pendeta Douglas Wilson, tokoh kontroversial penganut paham maskulinitas Kristen yang agresif.
Fenomena ini menandai masuknya budaya manosphere ke dalam struktur pemerintahan melalui jalur belakang gerakan evangelikal. Sebagaimana dijelaskan oleh sejarawan Kristin Kobes Du Mez dalam buku Jesus and John Wayne, tren tersebut bukan sebuah anomali melainkan puncak dari akumulasi doktrin maskulinitas militan selama empat dekade terakhir. Selama puluhan tahun, subkultur evangelikal terbiasa memuja konsep teologi pejuang dan pengkhotbah macho, di mana Tuhan digambarkan sebagai sosok petarung yang menciptakan kaum lelaki dalam citra agresif.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeTransformasi budaya ini melahirkan generasi pria Kristen yang lebih menyukai gaya alpha male dari manosphere sekuler ketimbang figur Yesus yang lembut di dalam Injil. Kebijakan tes testosteron muncul tidak lama setelah dokumen pengadilan mengungkap kasus kekerasan yang melibatkan influencer manosphere Andrew Tate. Walaupun figur Tate kerap menuai kontroversi hukum, ideologinya telah melebur ke dalam arus utama pemikiran konservatif modern berkat adopsi terselubung para pemimpin agama.
Dukungan kelompok evangelikal terhadap Donald Trump sejak pemilihan umum 2016 turut dilandasi logika serupa meskipun sang pemimpin kerap menuai kecaman moral. Menurut analisis awak media, para pemilih evangelikal menganggap Trump sebagai sosok pejuang garis depan yang siap melindungi kepentingan kelompok mereka dari ancaman perubahan sosial maupun budaya sekuler. Budaya machismo dalam mimbar gereja serta kedekatan tokoh agama dengan narasi kekuasaan menunjukkan bahwa pergeseran orientasi teologi menuju maskulinitas agresif akan terus mendominasi lanskap politik Amerika Serikat dalam jangka panjang.