Kabayan News Kabayan News
/home / nasional / Anonimitas Seniman, Tindakan Radikal...
NASIONAL

Anonimitas Seniman, Tindakan Radikal di Era Eksposur Diri

By Redaksi Kabayan News • 4 min read • 31 Juli 2026
Seniman bertopeng gorila dari kolektif Guerrilla Girls dalam aksi protes seni

Seniman bertopeng gorila dari kolektif Guerrilla Girls dalam aksi protes seni

Pada 1985, sekelompok perempuan anonim bertopeng gorila muncul di panggung seni New York. Mereka menamakan diri Guerrilla Girls dan memajang poster-poster satir di seluruh kota, menyoroti bias gender dan ras di museum dan galeri. Salah satu poster terkenal mereka bertuliskan, "Apakah perempuan harus telanjang untuk masuk ke Met. Museum?"

Seorang pendiri kolektif ini mengungkapkan ketakutan mereka saat itu. "Kami takut jika membongkar praktik orang-orang paling berkuasa di dunia seni, karier seni kami akan hancur," ujarnya dalam buku mereka tahun 1995. "Tapi terutama, kami ingin fokus pada isu, bukan pada kepribadian atau karya kami sendiri."

Hingga kini, Guerrilla Girls masih aktif dengan 55 anggota yang silih berganti. Mereka menggunakan nama samaran dari seniman perempuan yang telah meninggal seperti Frida Kahlo dan Lee Krasner. Identitas asli mereka baru terungkap setelah kematian atau karena tuntutan hukum, hingga pekan ini anggota berusia 83 tahun, Joyce Kozloff, memilih membuka topengnya sendiri.

"Saya punya perjanjian dengan anggota lain bahwa siapa pun yang mati duluan, yang selamat akan mengungkap identitasnya," kata Kozloff yang menggunakan nama sandi Liubov Popova. "Tapi saya sadar, jika saya mati, saya tak bisa menceritakan kisah saya dengan cara saya sendiri."

Di era media yang didominasi kultus selebriti dan identitas pribadi, anonimitas bukanlah jalur sederhana bagi seniman. Untuk mendapat perhatian abad ke-21, tak ada yang lebih penting dari membuat orang asing di internet merasa benar-benar mengenal Anda. Namun masih ada seniman visual, penulis, musisi, dan pembuat film yang memilih kerudung anonimitas.

Bagi Secret Barrister, penulis anonim yang mulai blogging pada 2015 untuk mengupas sistem hukum, anonimitas adalah perisai. "Sederhananya, anonimitas memberi saya kemampuan bicara terus terang, tanpa rasa takut atau pilih kasih tentang masalah di sistem peradilan pidana," tulisnya. Sementara Banksy, yang mulai menyemprot grafiti di Bristol tahun 1990-an, menggunakan nama samaran untuk menghindari masalah hukum.

Bagi Elena Ferrante, novelis di balik "Neapolitan quartet", nama samaran awalnya karena rasa malu namun berkembang menjadi dimensi penting dalam praktik menulis. "Anonimitas membuat saya bisa berkonsentrasi penuh pada tulisan," katanya. Duo elektronik Prancis Daft Punk juga menyembunyikan wajah dengan helm robot, bahkan awal karier mereka pakai karung kain di kepala saat tampil dan wawancara.

Thomas Bangalter dari Daft Punk mengakui sisi positif topengnya. "Yang saya suka dari topeng adalah tak ada orang yang terus mendekati saya dan mengingatkan apa yang saya lakukan. Senang bisa melupakan, meski ada sisi negatifnya. Beberapa tahun lalu di Ibiza, seseorang mengaku sebagai saya dan memakai tagihan bar besar di klub."

Pada 1968, Directors Guild of America memperkenalkan pseudonim "Alan Smithee" untuk sutradara yang tak mau diakui karyanya karena intervensi pihak lain. Beberapa penulis terkenal seperti JK Rowling dan Stephen King juga pernah menerbitkan buku dengan nama lain untuk menghindari kejenuhan pasar atau menguji apakah kesuksesan mereka hanya karena publisitas. Rowling sendiri memakai inisial "JK" atas saran penerbit agar buku fantasi laku dibeli anak laki-laki.

Anonimitas juga bisa menciptakan aura misteri. Di era oversharing dan banjir konten, orang justru penasaran ingin mengungkap identitas Anda. Namun praktisnya, hampir mustahil menjalankan bisnis tanpa berbagi data pribadi. Identitas Ferrante pernah diidentifikasi sebagai penerjemah sastra Anita Raja, sementara investigasi Reuters baru-baru ini menyebut Banksy adalah pria 50-an bernama Robin Gunningham.

Pseudonim selebriti pun jarang bertahan lama. Novel debut "Robert Galbraith" hanya terjual 1.500 kopi sebelum identitas Rowling bocor oleh pengacara. Pada 1990, Guerrilla Girls justru membuat poster "IDENTITAS GUERRILLA GIRLS TERBONGKAR!" dengan 500 nama perempuan di dunia seni, meski itu lelucon untuk menyoroti betapa banyak perempuan yang tak dikenal. Sebuah cara cerdas mengingatkan kembali tujuan awal kolektif: menyoroti perempuan yang selama ini ingin namanya dikenal.

Topics
anonimitas seniman guerrilla girls banksy elena ferrante daft punk identitas budaya pop visibilitas seni
Tim Jurnalis & Analis Berita

Redaksi Kabayan News adalah tim jurnalis profesional, analis, dan kreator konten yang berdedikasi menyajikan berita nasional dan internasional terlengkap. Dari berita politik breaking news hingga analisis ekonomi mendalam, kami hadir untuk masyarakat Indonesia yang cerdas dan haus akan informasi berkualitas.