Pelaksanaan upacara keagamaan di Bali selalu lekat dengan penggunaan banten sebagai sarana persembahan. Namun, banyak orang kerap keliru memandang wujud fisik banten sebagai tujuan akhir dalam ritual keagamaan.
Sebagaimana diwartakan dalam program Obrolan Galang Kangin di Pro 4 RRI Denpasar, narasumber Ajik Tibah dan Beli Kejoer mengajak umat Hindu untuk memahami bahwa banten pada hakikatnya hanyalah sebuah sarana penunjang.
Dalam diskusi tersebut, ditekankan bahwa besar atau kecilnya bentuk banten tidak pernah menentukan sah atau tidaknya sebuah yadnya. Kualitas utama dari persembahan tersebut justru bersumber dari ketulusan niat, keikhlasan, serta kesucian batin orang yang menghaturkannya.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe"Banten bukanlah tujuan utama, melainkan sarana untuk menyampaikan rasa bhakti dan ketulusan umat," tegas narasumber dalam siaran yang disiarkan pada Kamis, 20 Agustus 2026 tersebut.
Lebih lanjut, umat diingatkan agar tidak menjalankan ritual sekadar mengikuti kebiasaan atau rutinitas tanpa mengerti filosofinya. Pemahaman yang mendalam mengenai makna banten akan menuntun umat untuk senantiasa menjaga keseimbangan spiritual dalam kehidupan.
Berdasarkan laporan media, persembahan ini sejatinya berfungsi sebagai media ekspresi rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Yang terpenting bukanlah kemegahan tampilannya, melainkan kesadaran penuh saat mempersembahkannya.