Upacara Ngaben di Bali sering kali menarik perhatian masyarakat luas karena sarat dengan nuansa sakral dan kultural. Namun, di balik kemegahan prosesinya, ritual pembakaran jenazah ini menyimpan makna filosofis yang sangat mendalam mengenai siklus kehidupan dan kematian.
Sebagaimana diwartakan dalam siaran program Obrolan Galang Kangin di Pro 4 RRI Denpasar, narasumber Ajik Tibah dan Beli Kejoer menjelaskan bahwa esensi utama Ngaben adalah mengembalikan unsur pembentuk tubuh manusia ke alam semesta asalnya.
Menurut penjelasan Ajik Tibah, tubuh manusia tersusun atas Panca Maha Bhuta yang terdiri dari lima unsur utama, yakni Pertiwi, Apah, Teja, Bayu, dan Akasa. Ketika seseorang meninggal dunia, unsur-unsur tersebut harus dikembalikan kepada elemen alam yang bersangkutan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe"Panca Maha Bhuta kembali ke asalnya, Pertiwi kembali ke Pertiwi, Teja kembali ke Teja, dan unsur lainnya juga kembali ke asalnya," ujar Tibah dalam obrolan tersebut.
Ia juga menambahkan bahwa prosesi ini menandai perubahan bentuk dari unsur yang bersifat kasar menuju tatanan yang lebih halus. Sementara itu, Beli Kejoer menegaskan bahwa unsur panas bumi serta api fisik sama-sama berperan dalam proses alamiah penguraian unsur tubuh manusia.
Para narasumber sepakat bahwa pemahaman mendalam mengenai filosofi ini sangat penting bagi generasi muda. Di tengah era yang semakin kritis, ritual keagamaan tidak boleh hanya dijalankan sebagai tradisi turun-temurun tanpa mengerti makna spiritual di baliknya.
Dikutip dari laporan media, rangkaian upacara Ngaben pada akhirnya menjadi pengingat bagi umat Hindu bahwa segala sesuatu yang berasal dari alam akan kembali ke alam, sementara unsur yang halus melanjutkan perjalanan spiritual menuju Sang Pencipta.