Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meninjau langsung Sekolah Lapang Sagu di Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Papua Selatan, Minggu (21/6). Dalam kunjungan itu, ia menegaskan komitmen pemerintah untuk mendukung penguatan komoditas pangan lokal di berbagai daerah sebagai bagian dari ketahanan pangan nasional.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Gibran mengapresiasi program Sekolah Lapang Sagu yang dinilainya sangat baik dan patut didukung penuh. Program tersebut dijalankan melalui pendekatan berbasis budaya dan pemberdayaan masyarakat lokal, menjadikannya model pengembangan pangan yang berkelanjutan bagi warga Asmat.
"Hari ini kita melihat proses di Sekolah Lapang Sagu, saya kira ini sangat baik sekali dan harus didukung," ujar Wapres usai melihat langsung proses pembuatan sagu yang dilakukan oleh anggota masyarakat adat Suku Asmat di lokasi tersebut.
Menurut Wapres, penguatan komoditas lokal sebagai sumber pangan masyarakat semakin penting, terutama di tengah dinamika ketahanan pangan global. Hal ini disampaikannya merujuk pada kehadirannya di Pembukaan Pekan Nasional Petani Nelayan (Penas) XVII Tahun 2026 di Gorontalo sehari sebelumnya.
Gibran menjelaskan bahwa penguatan komoditas lokal sebenarnya sudah berjalan cukup lama, tidak hanya oleh pemerintah tetapi juga oleh organisasi akar rumput, termasuk gereja-gereja di wilayah Asmat. Ia menilai peran aktif masyarakat dan lembaga lokal sangat krusial dalam menjaga kearifan pangan setempat.
"Ini tugas pemerintah untuk mengamplifikasi dan mungkin kita replikasi di daerah-daerah lain," tegasnya menanggapi model pemberdayaan yang telah berhasil di Asmat.
Dalam kunjungannya, Wapres juga membagikan peralatan sekolah untuk anak-anak setempat sebagai bentuk perhatian pada pendidikan di kawasan terpencil. Ia berharap sinergi antara pemerintah, tokoh masyarakat, dan tokoh agama terus diperkuat untuk memastikan program-program berjalan efektif.
Kawasan Sekolah Lapang Sagu Asmat saat ini memiliki luas sekitar enam hektare dan dikelola melalui kerja sama antara Keuskupan Agats dengan pemerintah daerah. Lokasi ini tidak hanya menjadi pusat pembelajaran dan pengembangan sagu, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat pengolahan produk turunan sagu yang bernilai tambah bagi perekonomian masyarakat.
Gibran optimistis bahwa pendekatan berbasis kearifan lokal seperti di Asmat dapat menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia. Dengan replikasi program serupa, ketahanan pangan berbasis komoditas lokal diyakini mampu meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan sekaligus melestarikan budaya pangan nusantara.