Dikutip dari laporan media ABC News, satu dekade setelah tragedi kemanusiaan yang dicatat Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai salah satu penganiayaan minoritas terburuk di dunia, para penyintas etnis Rohingya kini berupaya membangun kembali kehidupan mereka di Australia. Di tengah komunitas yang terus berkembang dengan estimasi mencapai 5.000 jiwa, bayang-bayang trauma masa lalu masih menghantui hari-hari mereka.
Salah satu penyintas, Saddam Hossain, menceritakan kembali detik-detik ketika militer Myanmar mengepung desanya pada tahun 2017 silam. Berdasarkan laporan, ia mengalami luka tembak di bagian paha saat berusaha menyelamatkan ternaknya sebelum akhirnya melarikan diri melintasi perbatasan menuju Bangladesh dengan pertolongan warga lain.
Setelah menghabiskan waktu bertahun-tahun di kompleks pengungsian Cox's Bazar dan menjalani perawatan medis, Saddam akhirnya mendapatkan visa kemanusiaan untuk hijrah ke Australia. Walaupun kini telah berada di tempat yang aman, ia mengaku masih menyimpan kekhawatiran besar terhadap keselamatan saudaranya yang hingga kini masih terjebak di kamp pengungsian.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKisah serupa juga dibagikan oleh Shofika Begum yang harus menyaksikan anggota keluarganya dibunuh secara keji sebelum berhasil melarikan diri dari Myanmar. Sebagaimana diwartakan, meski bersyukur anak-anaknya dapat tumbuh tanpa rasa takut, luka psikologis dan kecemasan mendalam akan nasib sanak saudara di luar negeri terus menghantui malam-malamnya.
Robi Alam selaku juru bicara komunitas Rohingya United Youth Network mengungkapkan bahwa kisah-kisah penuh penderitaan semacam ini hampir ia dengar setiap hari dari para anggota komunitas. Ia menegaskan pentingnya menjaga identitas serta menyuarakan keadilan agar tragedi kemanusiaan yang menimpa etnis Rohingya tidak dilupakan dunia internasional.