Oral literature atau yang kerap disebut sebagai sastra lisan merupakan genre literatur yang disampaikan secara lisan atau dinyanyikan, berbeda dengan karya tulis pada umumnya. Meskipun banyak di antaranya telah ditranskripsi ke dalam bentuk tulisan, esensi utama dari oral literature tetap terletak pada penyampaiannya yang bersifat verbal dan turun-temurun.
Para antropolog memiliki beragam definisi mengenai oral literature atau folk literature. Secara luas, istilah ini merujuk pada literatur yang bercirikan transmisi lisan dan ketiadaan bentuk yang tetap. Tradisi ini mencakup cerita, legenda, dan sejarah yang diwariskan antargenerasi dalam bentuk tuturan, yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya suatu masyarakat.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMasyarakat pra-melek huruf tidak memiliki literatur tulis, namun mereka dapat memiliki tradisi lisan yang kaya dan beragam. Genre-genre dalam oral literature seperti epik rakyat, narasi rakyat yang mencakup dongeng dan fabel, drama rakyat, peribahasa, hingga lagu-lagu rakyat, semuanya membentuk apa yang dikenal sebagai sastra lisan. Keragaman genre ini justru menjadi tantangan tersendiri bagi para peneliti dalam mengklasifikasikannya.
Di sisi lain, masyarakat yang telah mengenal tulisan pun tetap melanjutkan tradisi lisan, terutama dalam lingkungan keluarga atau struktur sosial informal. Cerita pengantar tidur hingga legenda urban masa kini adalah contoh nyata bagaimana oral literature terus hidup. Bahkan, puisi lisan seperti slam poetry yang ditayangkan dalam acara televisi seperti Russell Simmons" Def Poetry menunjukkan bahwa tradisi ini mampu beradaptasi dengan medium modern.
Orature dan Konsep Sastra Lisan Menurut Para Ahli
Tradisi lisan yang menunjukkan "oralitas persisten" terus berkembang terutama melalui pertunjukan lisan atau nyanyian, bahkan di tengah masyarakat literat. Contohnya, tradisi lagu rakyat Bhojpuri yang dibawa diaspora India ke Mauritius dan Trinidad, tetap lestari melalui pertunjukan di berbagai acara dan sirkulasi di platform digital seperti YouTube. Proses ini sering melibatkan kreolisasi linguistik dan musikal, menciptakan apa yang disebut sebagai "teks lunak" yang mempertahankan resonansi budaya.
Oral literature merupakan komponen fundamental dari budaya, berfungsi serupa dengan harapan terhadap literatur pada umumnya. Cendekiawan Uganda, Pio Zirimu, memperkenalkan istilah "orature" untuk menghindari oksimoron, meskipun istilah "oral literature" tetap lebih umum digunakan dalam tulisan akademis dan populer. Zirimu mendefinisikan orature sebagai penggunaan ucapan sebagai sarana ekspresi estetis.
Menurut Encyclopaedia of African Literature yang disunting Simon Gikandi, orature berarti sesuatu yang diwariskan melalui kata-kata lisan dan menjadi hidup hanya dalam komunitas yang hidup. Ketika kehidupan komunitas memudar, orality kehilangan fungsinya dan mati. Dengan demikian, oral literature membutuhkan manusia dalam lingkungan sosial yang hidup, dan membutuhkan kehidupan itu sendiri.
Mbube Nwi-Akeeri, yang membangun konsep orature Zirimu, menjelaskan bahwa teori-teori Barat tidak dapat secara efektif menangkap dan menjelaskan oral literature, terutama yang berasal dari kawasan seperti Afrika. Hal ini karena ada elemen dalam tradisi lisan di tempat-tempat tersebut yang tidak dapat ditangkap oleh kata-kata saja, seperti keberadaan gerak tubuh, tarian, dan interaksi antara pendongeng dengan penonton. Menurutnya, oral literature bukan hanya narasi, tetapi juga sebuah pertunjukan.